logo Kompas.id
InternasionalRI dan ASEAN Tampak Memudar

RI dan ASEAN Tampak Memudar

Oleh
· 2 menit baca

Kisah AS, Jepang, dan Eropa memudar bukan hal baru. Keberadaan Donald Trump, Presiden AS yang dijuluki "funny", makin membuat arah AS makin absurd. Namun, ini tidak menghilangkan potensi besar bagi ekonomi global. Ada Asia Pasifik yang menggelinding.Hal itu tertangkap dari diskusi terbatas yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, Rabu (12/4). Temanya membahas masa depan ekonomi Asia Pasifik.Begitu besar potensi Asia Pasifik untuk terus membesar secara perekonomian. Uniknya, kata ekonom Mari Pangestu, sejauh ini kawasan Asia Pasifik tidak banyak direpotkan dengan isu regional di luar ekonomi. Kawasan sibuk mendalami perekonomian dan keterikatan ekonomi lintas batas.Mari Pangestu menambahkan, bahkan Trump yang kelihatan memberi ancaman pun rasanya tidak akan mengacaukan ekonomi global sebab dia juga berpikir akan dampaknya kepada AS sendiri.Relatif makin mulus laju Asia dengan pembubaran Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). "Pada pembicaraan di kelompok Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), efek Trump tak dihiraukan," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo.RCEP adalah semacam tandingan bagi TPP, ide AS dengan tidak mengikutkan China. RCEP merupakan ide China tanpa mengikutkan AS.Jangan lengahNamun, pengamat yang juga merupakan salah satu pendiri CSIS, Jusuf Wanandi, mengingatkan harus tetap waspada terhadap efek isu keamanan dan politik. Bukan tidak mungkin hal ini berpengaruh ke ekonomi. Bukan tidak mungkin terjadi kemelut terkait isu keamanan dan politik di Asia Pasifik dengan keberadaan Trump. "Dia agak mirip dengan almarhum Presiden Ronald Reagan," kata Jusuf.Di tengah masa depan Asia Pasifik yang prospektif sekaligus rawan hal negatif, muncul pertanyaan. Bagaimana strategi RI dalam masa depan Asia Pasifik, andalan bagi ASEAN. Myanmar, Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Thailand terkesan tidak peduli dengan ASEAN lagi.Sembari bercanda, Staf Khusus Menteri Luar Negeri untuk Isu-isu Strategis Djauhari Oratmangun mengatakan, Indonesia agak mirip AS dengan moto, "Indonesia First". Ini merujuk pada ketiadaan arah dan strategi Indonesia sebagai negara, dan yang dipersepsikan paling layak memimpin ASEAN.Rektor Universitas Prasetiya Mulya Profesor Djisman Simanjuntak mengatakan, di tengah isu global, sebaiknya Indonesia memantapkan diri. Namun, jangan juga menjadi negara yang ingin memimpin, tetapi terus memproteksi diri. (MON)

Editor:
Bagikan