logo Kompas.id
InternasionalMasa Depan Pengungsi Rohingya Semakin Tidak Menentu

Masa Depan Pengungsi Rohingya Semakin Tidak Menentu

DHAKA SENIN &mdash Sebagai kelompok tanpa kewarganegaraan hidup warga Rohingya menjadi tanpa arah Di tengah relasi modern yang ditandai oleh penghargaan dan pemenuhan atas hak- hak dasar sebagai manusia warga Rohingya selalu dihadapkan pada ketidakpastian atas masa depan dan pemenuhan hidup

· 3 menit baca

DHAKA, SENIN — Sebagai kelompok tanpa kewarganegaraan, hidup warga Rohingya menjadi tanpa arah. Di tengah relasi modern yang ditandai oleh penghargaan dan pemenuhan atas hak- hak dasar sebagai manusia, warga Rohingya selalu dihadapkan pada ketidakpastian atas masa depan dan pemenuhan hidup mereka sebagai manusia. Saat hidup mereka terkatung-katung di kamp pengungsi Cox Bazar-di wilayah perbatasan antara Banglades dan Myanmar-warga yang melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine itu dihadapkan pada rencana Pemerintah Banglades yang ingin memindahkan mereka ke Pulau Thengar Char. Menteri Luar Negeri Banglades AH Mahmood Ali, Minggu (5/2), mendesak masyarakat internasional untuk mendukung rencana itu. Ali beranggapan pemindahan tersebut akan membuat para pengungsi Rohingya lebih mudah mendapat akses pada bantuan kemanusiaan. Sebagai catatan, saat ini setidaknya terdapat lebih dari 232.000 warga Rohingya mengungsi ke Banglades. Belum lama ini, lebih dari 65.000 warga Rohingya kembali melarikan diri ke Banglades, menghindari operasi keamanan di wilayah Maungdaw, Myanmar. Operasi itu dipicu penyerangan tiga pos polisi perbatasan yang diduga dilakukan kelompok radikal Rohingya. Dari sejumlah foto tentang kamp Cox Bazar, kondisi hidup para pengungsi itu sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di gubuk-gubuk reyot tanpa jaminan apa pun. Pekan lalu, otoritas Banglades membentuk sebuah komite yang terdiri atas pejabat negara di wilayah pesisir yang diberi tugas mengawasi rencana relokasi warga Rohingya dari Cox Bazar. Mereka pun memiliki kekuasaan untuk memerintah pihak berwenang mengidentifikasi dan merelokasi warga Rohingya yang tidak memiliki dokumen ke Pulau Thengar Char.Namun, seorang pejabat lokal mengkritik rencana itu. Ia mengatakan, pulau seluas lebih kurang 2.430 hektar itu hanya dapat diakses pada musim dingin dan menjadi surga bagi bajak laut. Ide itu juga memicu protes dari tokoh komunitas Rohingya. PBB pun menilai relokasi pengungsi secara paksa justru akan memicu kontroversi dan menyebabkan munculnya persoalan lain yang lebih kompleks.Menyikapi kritik itu, Ali mengatakan kepada para diplomat bahwa pengungsi Rohingya hanya akan dipindahkan ke Pulau Thengar Char setelah semua infrastruktur pendukung-termasuk sekolah dan jaringan jalan- telah tersedia. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Banglades mengatakan, Menlu meminta PBB dan mitra internasional lainnya untuk memberikan dukungan atas pelaksanaan rencana relokasi ini. "Dengan memberikan bantuan dalam mengembangkan pulau dan mengangkut warga negara Myanmar," kata pernyataan itu.Kementerian Luar Negeri Banglades menegaskan, relokasi itu bersifat sementara. "Selanjutnya, Banglades ingin masyarakat internasional mengambil langkah-langkah berarti untuk repatriasi para pengungsi ini ke Myanmar," ujar pernyataan itu.Tentu upaya itu tidak mudah karena selama ini Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warga negara. Myanmar telah lama dikecam komunitas internasional karena perlakuan diskriminasi atas warga Rohingya. (AFP/JOS)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..