logo Kompas.id
Ilmu Pengetahuan & TeknologiPolusi dari Produksi Daging...

Polusi dari Produksi Daging Menyebabkan 75.000 Kematian di China Tiap Tahun

Kajian terbaru menemukan bahwa peningkatan tren konsumsi daging menyebabkan 75.000 kematian dini per tahun di China. Hal itu disebabkan emisi amonia dari pupuk dan kotoran ternak.

Oleh
Ahmad Arif
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/8vdlNXbcuJlX4qevxAu_RgTYp64=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F83f24cd8-d809-4b9c-b0c9-3618e493a5ea_jpg.jpg
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Warga memilih daging sapi yang hendak dibeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (3/12/2021). Menurut para pedagang di pasar tersebut, harga daging sapi stabil pada kisaran Rp 120.000-Rp 130.000 per kilogram. Konsumsi daging berlebihan memicu banyak masalah kesehatan.

JAKARTA, KOMPAS — Konsumsi lebih banyak daging memicu banyak masalah kesehatan. Kajian terbaru menemukan, peningkatan tren konsumsi daging menyebabkan 75.000 kematian dini per tahun di China akibat emisi amonia dari pupuk dan kotoran ternak. Hal itu menunjukkan, konsumsi daging juga bisa memicu dampak tidak langsung.

Studi yang ditulis Xueying Liu dari  Department of Earth and Atmospheric Sciences University of Houston dan tim ini diterbitkan di jurnal Nature Food pada Kamis (16/12/2021). Ini merupakan studi pertama bagaimana perubahan pola makan di China mulai dari 1980 hingga 2010 meningkatkan emisi amonia pertanian (NH3) dari pupuk dan kotoran ternak, lalu diukur dampaknya pada kesehatan manusia.

Liu menulis, produksi daging di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir melonjak tajam, dengan peningkatan paling mencolok di Asia Timur, khususnya China. Banyak kajian menemukan, konsumsi daging berlebih dan lebih sedikit biji-bijian buruk bagi kesehatan manusia. Riset ini yang pertama mengukur dampak perubahan pola makan China melalui perubahan praktik pertanian yang mengarah pada mutu udara lebih buruk.

Di sisi lain, polusi partikel halus di udara juga menimbulkan risiko lingkungan yang serius bagi kesehatan manusia. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2021 dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan yang merugikan, termasuk kondisi pernapasan, kanker paru-paru, dan penyakit kardiovaskular, sehingga mereka memperbarui ambang pencemaran.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/MPiTR0dgpRrKXfs98m-XyUN4wjw=/1024x655/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F06%2Fde1dc2d9-253a-4976-867e-0f18c335447f_jpg.jpg
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pengunjung melewati salah satu kios daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (2/6/2021). Peningkatan konsumsi daging memicu berbagai masalah kesehatan.

Peningkatan konsumsi

Dalam kajian ini, para peneliti menganalisis perubahan pola produksi dan konsumsi makanan di China. Mereka menemukan bahwa produksi daging selama periode 1980-2010 meningkat 433 persen dari 15 megaton menjadi 80 megaton.

Baca juga : Mengurangi Konsumsi Daging Bantu Menurunkan Emisi

Pada periode waktu sama, emisi amonia pertanian ditemukan hampir dua kali lipat. Para peneliti memperkirakan perubahan pola makan bertanggung jawab atas 63 persen kenaikan emisi dengan pendorong utamanya adalah konsumsi daging.

Berdasarkan hal ini, mereka menghitung bahwa 5 persen dari 1,83 juta kematian orang China terkait polusi materi partikel pada tahun 2010 akibat perubahan pola makan. Sebagian besar angka tersebut karena meningkatnya permintaan daging.

Studi ini juga menemukan, jika konsumsi daging di China bisa dikurangi, hal itu akan mengurangi emisi amonia pertanian dan mengurangi efek berbahaya dari polusi udara pada kesehatan populasi. Diperkirakan, jika konsumsi daging dikurangi dengan mengikuti Pedoman Diet China 2016, emisi amonia akan berkurang 2,1 teragram (tg) dan 74.805 kematian dapat dihindari.

Xiaoyu Yan, profesor sistem energi berkelanjutan di University of Exeter, mengatakan, ”Prioritas utama China pada 1980-an adalah untuk memenuhi permintaan pangan dasar masyarakat.”

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/hTMZF5hmN2v-bz_0KlSLU-ahizM=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2Fb26da6c7-396a-4b1a-b006-74eca6fe9f61_jpg.jpg
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Aktivitas penjualan daging sapi segar di Kampung Ujung Harapan, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/5/2021). Pasar dadakan hanya berlangsung dua hari menjelang Lebaran di kampung yang dulunya bernama Ujung Malang itu.

Namun, karena masalah kekurangan gizi berkurang secara substansial, jalur produksi dan konsumsi makanan lebih berkelanjutan amat dibutuhkan. ”Lintasan pilihan makanan saat ini di China perlu diubah untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan di dalam negeri dan di seluruh dunia,” ujarnya.

Baca juga : Bukti Kaitan Konsumsi Daging Merah dengan Kanker Kolorektal Ditemukan

Anggota tim penulis, Gavin Shaddick, yang juga ketua ilmu data dan statistik di University of Exeter, menambahkan, ”Penelitian kami menunjukkan, mengubah pola konsumsi dapat meningkatkan kesehatan melalui diet lebih sehat. Perubahan pola konsumsi juga memiliki manfaat tambahan dalam hal dampak lingkungan dari sektor pertanian yang kemudian berdampak pada kesehatan manusia.”

Lintasan pilihan makanan saat ini di China perlu diubah untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan di dalam negeri dan di seluruh dunia.

Dalam kajian ini, para peneliti menemukan perbedaan besar antara anggota masyarakat kaya dan miskin. Efek kesehatan yang merugikan dari makan lebih banyak daging sebagian besar dialami oleh mereka yang mampu membelinya. Namun, dampak tidak langsung berupa peningkatan tingkat polusi udara dialami mereka yang berpendapatan lebih rendah di daerah pertanian utama, seperti Hebei dan Henan.

”Ketidaksetaraan ini menunjukkan dimensi etika konsumsi daging yang patut mendapat perhatian ketika mengembangkan kebijakan publik,” kata Yan.

Editor:
Evy Rachmawati
Bagikan