logo Kompas.id
Ilmu Pengetahuan & TeknologiBurung Hantu ”Rajah Borneo” Ditemukan Kembali Setelah Menghilang 125 Tahun

Burung Hantu ”Rajah Borneo” Ditemukan Kembali Setelah Menghilang 125 Tahun

Penemuan kembali burung hantu Rajah Kalimantan menjadi kabar gembira. Burung ini terakhir diketahui tahun 1892.

Oleh Ahmad Arif
· 3 menit baca
Memuat data...

Foto pertama burung hantu Rajah Borneo di alam liar sekitar Gunung Kinabalu, Sabah. Sumber: Andy Boyce, Smithsonian Migratory Bird Center (2021)

JAKARTA, KOMPAS — Subspesies burung hantu Rajah Borneo (Otus brookii brookii) untuk pertama kali berhasil didokumentasikan kembali di alam liar sejak terakhir diketahui tahun 1892. Burung ini ditemukan kembali di pegunungan Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Temuan ini dipublikasikan di The Wilson Journal of Ornithology yang dirilis pada Senin (3/5/2021). Ahli ekologi dari Smithsonian Migratory Bird Center, Andy Boyce, yang melaporkan penemuan kembali burung itu, berhasil memotret subspesies yang selama ini dianggap sudah menghilang dari Borneo atau Pulau Kalimantan ini.

Keterkejutan dan kegembiraan yang luar biasa karena kami menemukan burung mitos ini. Berdasarkan ukuran, warna mata dan habitat, saya tahu itu burung hantu Rajah Kalimantan.

”Keterkejutan dan kegembiraan yang luar biasa karena kami menemukan burung mitos ini. Berdasarkan ukuran, warna mata dan habitat, saya tahu itu burung hantu Rajah Kalimantan,” kata Boyce.

Menurut dia, dengan mempertimbangkan ciri khas bulu burung ini, pola spesiasi yang diketahui dalam genus Otus dan pola filogeografi burung pegunungan di Kalimantan dan Sumatera, Otus brookii brookii ini kemungkinan merupakan spesies unik sendiri dan karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut. Burung hantu ini rata-rata memiliki berat sekitar 100 gram.

Selama ini diketahui ada dua subspesies burung hantu Rajah di Asia Tenggara, yaitu Otus brookii brookii di Pulau Kalimantan dan Otus brookii solokensis di Sumatera. Burung hantu dalam genus Otus sering menunjukkan perbedaan yang cepat setelah isolasi di suatu wilayah. Faktanya, Kepulauan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, terdiri dari pulau-pulau yang memfasilitasi perbedaan spesies, dan Kalimantan serta Sumatera sangat rentan terhadap peristiwa spesiasi.

Menurut Boyce, penemuan Rajah Borneo secara kebetulan terjadi pada Mei 2016 sebagai bagian dari studi 10 tahun evolusi sejarah hidup burung di Gunung Kinabalu di tujuh plot studi pada ketinggian 1.500-1.900 meter. Proyek ini dipimpin oleh TE Martin, ahli biologi penelitian satwa liar di Montana Cooperative Wildlife Research Unit di University of Montana.

Saat mencari sarang pada Mei 2016, teknisi Keegan Tranquillo memberi tahu Boyce, yang saat itu mahasiswa doktoral di University of Montana, setelah melihat burung hantu yang lebih besar dan dengan bulu berbeda dari burung hantu yang biasa ditemui (O. spilocephalus luciae) di wilayah pegunungan itu.

Boyce mengatakan, ”Jika burung langka ini hanya endemik di Kalimantan dan merupakan spesies tersendiri, tindakan konservasi harus dilakukan. Satu-satunya pengamatan kami selama studi intensif ini memastikan burung hantu ini hidup di hutan pegunungan, kemungkinan di atas atau di bawah area survei.”

Wilayah ketinggian tersebut kini terancam oleh hilangnya habitat akibat perubahan iklim, penggundulan hutan, dan pengembangan kelapa sawit. ”Untuk melindungi burung ini, kami membutuhkan pemahaman yang kuat tentang habitat dan ekologinya,” katanya.

Kurangnya informasi tentang spesies dan subspesies serta kelangkaan taksa burung di Kalimantan, burung hantu Rajah ditetapkan sebagai spesies yang paling tidak diperhatikan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Baca juga: Harapan Baru Penemuan Burung Pelanduk Kalimantan yang Hilang Selama 170 Tahun

Penemuan kembali burung hantu Rajah Kalimantan ini menjadi kabar gembira sekaligus prihatin di tengah maraknya degradasi hutan di pulau ini. Sebelumnya, satwa endemik berupa burung pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata) yang diduga mengalami kepunahan sejak 1848 atau 172 tahun yang lalu  kembali ditemukan pada Maret 2021. Burung ini kembali dijumpai di Pulau Kalimantan, tepatnya di Provinsi Kalimantan Selatan.

Editor: Aloysius Budi Kurniawan
Bagikan
Memuat data..