Ilmu Pengetahuan & TeknologiPavarotti. Selamanya

Pavarotti. Selamanya

Kenangan itu seperti kembali Mendengar suara emasnya di malam awal musim semi di Gedung Opera Covent Garden London lalu berburu tanda tangannya di balik panggung yang harus memberikan kesempatan kepada sahabatnya-mendiang Putri Diana-untuk lebih dulu mengucapkan selamat Ya ariaUna furtiva la

· 4 menit baca

Kenangan itu seperti kembali. Mendengar suara emasnya di malam awal musim semi di Gedung Opera Covent Garden, London, lalu berburu tanda tangannya di balik panggung yang harus memberikan kesempatan kepada sahabatnya-mendiang Putri Diana-untuk lebih dulu mengucapkan selamat. Ya... aria"Una furtiva lagrima" (Air Mata Penyesalan) dari opera L'Elisir d'Amore (Jamu Cinta) karya Donizetti dan "Recondita Armonia" (Harmoni yang Penuh Kegaiban) dari opera Tosca karya Puccini pada yang penulis dengarkan langsung pada April 1990 dan September 1992, kembali terngiang saat bersama sekitar 400 pencinta musik menikmati konser mengenang 10 tahun berpulangnya Pavarotti di Teater Artpreneur Ciputra, Jakarta, Minggu (26/11) malam. Konser yang dihadiri istri almarhum-Nicoletta Mantovani Pavarotti-menghadirkan tiga tenor (Jenish Ysmanov, Alin Stoica, dan Marco Miglietta) seorang soprano, Elisa Balbo, dengan pianis Paolo Andreoli.Kerinduan itu pertama diobati dengan terdengarnya aria "Una furtiva lagrima". yang juga muncul dalam album Yes Giorgio, satu-satunya film musik yang dibintangi Pavarotti. Di era Youtube, kerinduan akan suara Pavarotti mudah terobati karena begitu banyak penampilannya yang bisa kita tonton di kanal digital ini. Namun, mendengarkan aria-lagu opera yang dibawakan solo oleh penyanyi tenor atau soprano-kesukaan Pavarotti tentu membangkitkan nostalgia sendiri. Vokal Pavarotti-yang memulai karier operanya pada 1961- memang banyak dikaitkan dengan repertoar bel canto sehingga ranah alamiahnya-seperti dicatat oleh Jeremy Nicholas dalam bukunya, Opera (1993)- adalah karya-karya liris Donizetti dan Puccini, ditambah dengan Verdi.Luciano Pavarotti yang lahir di Modena, 12 Oktober 1935, adalah putra dari seorang pembuat roti dan pekerja pabrik tembakau. Karier awalnya adalah sebagai guru sekolah dan pemasar asuransi. Sulit dibayangkan bahwa kemudian ia bisa berbelok jadi penyanyi opera terkemuka.Dengan tubuhnya yang supersize itu sebenarnya tak banyak akting yang bisa ia tampilkan di panggung. Karena itu, benar-benar satu hal yang mengesankan saat penulis melihatnya ambruk setelah ditembak oleh begundal Scarpia dalam opera Tosca.Di Jakarta, ketiga tenor dan soprano menghibur penonton antara lain dengan aria "Che gelida manina" (Alangkah dingin tangan kecilmu), dan "Mi chiamano Mimi" (Mereka memanggilku Mimi), serta "O suave fanciulla" (O Gadis kecil yang manis), aria dan duet dari opera La Boheme karya Puccini yang mengantar Pavarotti ke panggung dunia.Meski ada banyak aria opera yang dikenal sebagai kekhasan (signature) Pavarotti, seperti "Nessun Dorma" (Tak Seorang pun Boleh Tidur) dari opera Turandot karya Puccini, atau "Cielo e Mar" (Langit dan Laut) dari opera La Gioconda karya Ponchielli, Pavarotti juga bertambah luas audiens dan fansnya karena ia juga melangkah keluar dari ranah opera. Lagu-lagu Neapolitan, seperti "O Sole Mio" (Matahariku) yang musiknya digubah Eduardo di Capua adalah salah satu di antaranya yang amat masyhur.Yang menjadi identik dengan Pavarotti adalah dua karya Ernesto de Curtis "Torna a Surriento" (Kembali ke Sorrento) dan "Non ti scordar di me" (Jangan Lupakan Daku). Ia nyanyikan kedua lagu di atas di sejumlah kota dan taman di dunia, dari Hyde Park di London hingga Central Park di New York, dari Italia hingga China.Pavarotti tutup usia pukul 05.00 di kota kelahirannya, Modena, Italia, 6 September 1997, karena kanker pankreas. Debutnya sebagai tenor opera dilakukan dengan membawakan peran Rodolfo di opera La Boheme karya Puccini dan ia akhiri kariernya juga dengan karya Puccini. "Nessun Dorma" yang menandai penampilan terakhirnya ia nyanyikan pada pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Turin, Februari 2006, dan perpisahannya dengan opera ditandai dengan peran Cavaradossi dalam opera Tosca di Metropolitan Opera, New York, Maret 2004.Kini Pavarotti sudah tiada, tapi seperti disampaikan dalam tema, haul 10 tahun, Pavarotti Forever. Pavarotti... Selamanya.Dubes Italia untuk Indonesia Vittorio Sandalli dalam sambutannya menyatakan harapannya bahwa peringatan 10 tahun berpulangnya sang tenor yang juga melewati Indonesia menandai upaya Italia untuk terus mengembangkan hubungan baik dengan Indonesia, tidak saja dalam seni budaya, tetapi juga teknologi dan lainnya. Pavarotti, seperti dinyatakan oleh sang istri, juga selalu mengenang keindahan dan keramahan Indonesia setelah ia kunjungi 23 tahun silam.Sebaliknya, kehadiran Dubes Indonesia di Italia (2013-2017) August Parengkuan, juga penampilan pianis-komposer Ananda Sukarlan yang menautkan "Nessun Dorma" dan "Melati di Tapal Batas" Ismail Mz, serta keramahan Rina Ciputra Sastrawinata yang menyediakan Teater Artpreneur juga menunjukkan apresiasi Indonesia pada budaya adiluhung Italia. Di pengujung acara, layar multimedia besar di belakang panggung menampilkan Pavarotti di Roma tahun 1990. dan meluncurlah "Nessun Dorma" yang masyhur itu.//Guardi le stele che tremano (bintang-bintang mengawasi dengan gemetar)//D'amore e di speranza (dengan cinta dan harapan)//Kenangan akan suara emas dan amal Pavarotti-lah yang membuat Sang Tenor tak terlupakan. Sekali lagi, C'e sempre un nido nel mio cor per te. Selalu ada sarang di hati untukmu.(NINOK LEKSONO)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..