logo Kompas.id
β€Ί
Ilmu Pengetahuan & Teknologiβ€ΊTenaga Kesehatan Perlu...
Iklan

Tenaga Kesehatan Perlu Diedukasi

Oleh
Β· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS β€” Pengetahuan tenaga kesehatan di tingkat puskesmas terhadap kanker anak belum memadai. Karena itu, edukasi terhadap tenaga kesehatan dan melengkapi puskesmas dengan alat deteksi dini perlu dilakukan agar kasus kanker anak ditangani lebih cepat.Ahli onkologi anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Edi Setiawan Tehuteru mengungkapkan hal itu seusai peringatan bulan penyadaran kanker anak sedunia di kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (24/9). Sejauh ini, masyarakat, bahkan tenaga kesehatan, di daerah pelosok belum terpapar informasi yang benar dan utuh soal kanker anak. Padahal, itu membantu para orangtua untuk lebih waspada pada anaknya. Bagi tenaga kesehatan, pengetahuan dan kompetensi mendeteksi berperan penting dalam memberi terapi pada pasien secara cepat."Kuncinya adalah kepedulian. Penyebaran informasi ke daerah ini masih jadi masalah. Sejak pemangkasan anggaran, dana pelatihan tenaga kesehatan di daerah jauh berkurang," kata Edi.Terkait hal itu, Kementerian Kesehatan bersama para ahli onkologi anak terus mengedukasi para tenaga kesehatan di Indonesia. Tiap puskesmas atau rumah sakit mengirim satu dokter atau dokter spesialis anak, bidan, dan perawatnya untuk diikutkan pelatihan bagi pelatih (TOT) tentang kanker anak. Itu dilakukan di 17 provinsi.Hingga kini, penyebab kanker anak belum diketahui. Kombinasi faktor genetika, virus, dan radiasi diduga jadi penyebabnya. Ada 6 jenis kanker yang kerap menyerang anak, yakni leukemia, retinoblastoma, osteosarkoma, neuroblastoma, limfoma maligna, dan karsinoma nasofaring. Baru retinoblastoma yang bisa dideteksi dengan oftalmoskop, alat melihat bagian dalam mata.Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi kanker pada anak usia 0-14 tahun 0,5 per 1.000 anak atau 16.291 kasus. Menurut Sistem Registrasi Kanker di Indonesia 2005-2007, angka kasus kanker anak (0-17 tahun) 9 per 100.000 anak. Angka kasus pada anak usia 0-5 tahun 18 per 100.000 anak dan pada usia 5-14 tahun 10 per 100.000 anak.Ketua Yayasan Anyo Indonesia Pinta Manullang-Panggabean menyatakan, pihaknya melakukan gerakan 1.000 oftalmoskop untuk membantu dokter mendeteksi retinoblastoma pada anak. "Jika terdeteksi sejak awal, mata dan penglihatan anak bisa terselamatkan," ujarnya. (ADH)

Editor:
Bagikan