logo Kompas.id
Ilmiah PopulerKota-kota Pesisir Asia...

Kota-kota Pesisir Asia Tenggelam Lebih Cepat daripada Kenaikan Permukaan Laut

Kota pesisir Asia lainnya tenggelam lebih cepat daripada laju kenaikan permukaan laut. Jakarta dan Semarang termasuk yang mengalami penurunan tanah paling drastis.

Oleh
AHMAD ARIF
· 4 menit baca
Rob di RT 005 RW 002 Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (6/1/2022). Limpasan air laut tersebut sudah terjadi sejak 1 Januari 2022. Rob berlangsung pagi hingga sore hari dan mencapai puncaknya pukul 11.00 dengan ketinggian 30-40 sentimeter.
KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)

Rob di RT 005 RW 002 Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (6/1/2022). Limpasan air laut tersebut sudah terjadi sejak 1 Januari 2022. Rob berlangsung pagi hingga sore hari dan mencapai puncaknya pukul 11.00 dengan ketinggian 30-40 sentimeter.

JAKARTA, KOMPAS —Jakarta, Manila, dan beberapa kota pesisir Asia lainnya tenggelam lebih cepat daripada laju kenaikan permukaan laut karena penurunan tanah. Dalam kajian terbaru di 99 kota pesisir di dunia ini, Jakarta dan Semarang termasuk yang mengalami penurunan tanah paling drastis, yaitu mencapai 3 sentimeter per tahun.

Hasil penelitian terbaru ini menyerukan tindakan regulasi yang ketat untuk mengurangi ekstraksi air tanah, yang diidentifikasi sebagai penyebab utama penurunan tanah. Penelitian ini dipublikasikan di Geophysical Research Letters edisi April 2022.

Dalam kajian ini, para peneliti menganalisis kerentanan 99 kota pesisir di seluruh dunia, 33 di antaranya memiliki area atau bagian yang mengalami penurunan lebih dari 1 sentimeter per tahun. Peneliti Pei-Chin Wu, Matt Wei, dan Steven D’Hondt dari Graduate School of Oceanography di University of Rhode Island menggunakan Interferometric Synthetic Aperture Radar berbasis satelit untuk mengidentifikasi ”daerah yang cepat surut”.

"Di sebagian besar kota, sebagian tanahnya turun lebih cepat daripada naiknya permukaan laut," kata studi tersebut.

”Jika penurunan muka tanah terus berlanjut pada tingkat saat ini, kota-kota ini akan menghadapi banjir lebih cepat daripada yang diproyeksikan oleh model kenaikan permukaan laut. Penurunan tanah paling cepat terjadi di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur. Namun, penurunan tanah yang cepat juga terjadi di Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Australia.”

(a) Laju penurunan muka tanah maksimum di 99 kota di seluruh dunia menggunakan data A/B Sentinel-1 antara tahun 2015 dan 2020. (b) Perkiraan area dengan ketinggian kurang dari 10 m di atas laut tingkat dan penurunan lebih cepat dari 2 mm/tahun LOS di peta deret waktu <i>Interferometric Synthetic Aperture Radar</i> dalam batas kota. Penurunan 2 mm/tahun LOS berada di ujung bawah laju kenaikan permukaan laut global saat ini (2,6 mm/tahun selama dua dekade terakhir oleh Nicholls et al. (2021); 2,1 ± 0,9 mm/tahun untuk 1971–2010 dan 3,0 ± 1,9 mm/tahun untuk 1993–2010 oleh Palmer dkk (2021)). Sumber: Geophysical Research Letters (2022)
AHMAD ARIF

(a) Laju penurunan muka tanah maksimum di 99 kota di seluruh dunia menggunakan data A/B Sentinel-1 antara tahun 2015 dan 2020. (b) Perkiraan area dengan ketinggian kurang dari 10 m di atas laut tingkat dan penurunan lebih cepat dari 2 mm/tahun LOS di peta deret waktu Interferometric Synthetic Aperture Radar dalam batas kota. Penurunan 2 mm/tahun LOS berada di ujung bawah laju kenaikan permukaan laut global saat ini (2,6 mm/tahun selama dua dekade terakhir oleh Nicholls et al. (2021); 2,1 ± 0,9 mm/tahun untuk 1971–2010 dan 3,0 ± 1,9 mm/tahun untuk 1993–2010 oleh Palmer dkk (2021)). Sumber: Geophysical Research Letters (2022)

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), sejak 1993, kenaikan permukaan laut telah terjadi dengan kecepatan sekitar 2 milimeter (mm) per tahun. Namun, antara tahun 1982 dan 2010, Jakarta mengalami penurunan tanah sebanyak 28 sentimeter (cm). Sementara sejak 2015 hingga 2020 penurunan tanah turun di Jakarta yang mencapai 3 cm per tahun atau 10 kali lipat dibandingkan laju kenaikan muka air laut.

Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, juga mengalami penurunan tanah 3 cm per tahun. Penurunan muka air tanah sebesar ini juga terjadi di Tianjin, China.

Manila, ibu kota Filipina, mengalami penurunan tanah lebih dari 2 cm per tahun antara 2015 dan 2020, hampir tujuh kali lebih cepat daripada rata-rata kenaikan permukaan laut. Fenomena penurunan tanah lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut lebih menonjol di kota-kota Asia daripada di tempat lain. Misalnya, di Shanghai, tingkat penurunan tanah antara tahun 1990 dan 2001 adalah 1,6 sentimeter per tahun.

”Di sebagian besar kota, sebagian tanahnya turun lebih cepat daripada naiknya permukaan laut,” kata studi tersebut.

”Jika penurunan muka tanah terus berlanjut pada tingkat saat ini, kota-kota ini akan menghadapi banjir lebih cepat daripada yang diproyeksikan oleh model kenaikan permukaan laut. Penurunan tanah paling cepat terjadi di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur. Namun, penurunan tanah yang cepat juga terjadi di Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Australia.”

Foto udara tanggul pengaman pantai memanjang di Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (19/8/2021). Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan, permasalahan terkait penurunan tanah (<i>land subsidence</i>) akibat tekanan lingkungan dari pembangunan perkotaan terjadi di beberapa kota besar di Asia, termasuk Jakarta. DKI dengan segala jenis kegiatan dan permukiman penduduk mengalami permasalahan penurunan muka tanah selama 50 tahun terakhir.
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Foto udara tanggul pengaman pantai memanjang di Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (19/8/2021). Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan, permasalahan terkait penurunan tanah (land subsidence) akibat tekanan lingkungan dari pembangunan perkotaan terjadi di beberapa kota besar di Asia, termasuk Jakarta. DKI dengan segala jenis kegiatan dan permukiman penduduk mengalami permasalahan penurunan muka tanah selama 50 tahun terakhir.

Studi tersebut menunjukkan, ekstraksi air tanah yang berlebihan kemungkinan besar menjadi alasan tenggelamnya beberapa daerah di kota-kota pesisir ini. Hal ini berpotensi memengaruhi hidup 59 juta orang.

Studi sebelumnya telah menyebutkan, peningkatan populasi yang cepat, perluasan produksi industri dan pertanian, serta tidak adanya pengolahan air dan kualitas air yang buruk dari air permukaan yang tersedia karena polusi adalah salah satu alasan utama untuk meningkatkan ketergantungan pada air tanah.

Jika penurunan tanah di Jakarta sudah banyak diperhatikan, situasi di daerah seperti Pekalongan masih sangat minim perhatian, padahal intensitasnya lebih parah. Di kota ini banjir rob meluas, bahkan sudah masuk ke perkotaan dan menyebabkan banjir rutin.

Wei mengatakan kepada SciDev.Net pada Selasa (26/4/2022), penurunan tanah telah berkurang di sejumlah kota, seperti Manila. ”Menurut satu penelitian, Manila telah surut 3 cm per tahun dari 2003 hingga 2010. Jadi, pengamatan kami 2 sentimeter per tahun antara 2015 dan 2020 lebih lambat,” kata Wei.

Menurut Wei, mencari sumber air tanah alternatif harus dilakukan oleh kota-kota ini. Selain itu, harus ada regulasi yang tegas mengatur mengenai pengambilan air tanah.

Baca juga: Penurunan Tanah Ancaman Utama Utara Jawa

Warga berkendara sepeda motor di atas jalan cor sempit yang tergenang rob, dari arah Dukuh Mondoliko, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2020). Berjarak sekitar 8 km dari perbatasan Kota Semarang-Kabupaten Demak, dukuh yang dihuni sekitar 120 keluarga itu kerap terkepung rob saat air laut pasang. Akibatnya, warga nyaris terisolasi.
ADITYA PUTRA PERDANA

Warga berkendara sepeda motor di atas jalan cor sempit yang tergenang rob, dari arah Dukuh Mondoliko, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2020). Berjarak sekitar 8 km dari perbatasan Kota Semarang-Kabupaten Demak, dukuh yang dihuni sekitar 120 keluarga itu kerap terkepung rob saat air laut pasang. Akibatnya, warga nyaris terisolasi.

Kota lain lebih parah

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh Badan Riset Inovasi Nasional, Rokhis Khomarudin, dalam diskusi sebelumnya mengatakan, penurunan muka tanah terjadi di kota-kota di pantai utara Jawa, bahkan yang terparah bukan di DKI Jakarta.Berdasarkan pemantauan citra satelit, penurunan di Jakarta 0,1 - 8 cm per tahun, Cirebon 0,3-4 cm per tahun, Pekalongan 2,1-11 cm per tahun, Semarang 0,9–6 cm per tahun, dan Surabaya 0,3–4,3 cm per tahun (Kompas, 17 September 2021).

Selain pengambilan air tanah, menurut Rokhis, penurunan tanah di Pekalongan juga dipicu oleh hilangnya beting gesik karena dipakai tambak. Jika penurunan tanah di Jakarta sudah banyak diperhatikan, situasi di daerah seperti Pekalongan masih sangat minim perhatian, padahal intensitasnya lebih parah. Di kota ini banjir rob meluas, bahkan sudah masuk ke perkotaan dan menyebabkan banjir rutin.

Lihat juga: Jakarta dan Penurunan Muka Tanah

Editor:
ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Bagikan