logo Kompas.id
Ilmiah PopulerDilema Rahim Buatan
Iklan

Dilema Rahim Buatan

Rahim buatan bisa memperpanjang usia harapan hidup bayi prematur. Namun, inovasi ini bisa berdampak juga pada budaya, sistem sosial, dan politik. Aspek legal dan etik rahim buatan penting sebagai panduan pengembangannya.

Oleh
MUCHAMAD ZAID WAHYUDI
· 7 menit baca
Perkembangan embrio domba yang dikembangkan dalam rahim buatan oleh tim peneliti dari Rumah Sakit Philadelphia, Amerika Serikat, pada April 2017. Foto kiri adalah kondisi domba saat awal masuk rahim buatan pada usia setara 23 minggu pada janin manusia. Kulit domba terlihat gundul tanpa bulu dan berwarna kemerahan. Sementara foto kanan adalah foto domba setelah dibiakkan dalam rahim buatan selama waktu tertentu. Kulit domba sudah berbulu dan warnanya menjadi putih pucat. Foto riset rahim buatan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications yang terbit 25 April 2017.
NATURE COMMUNICATIONS/EMILY A PARTRIDGE ET AL.

Perkembangan embrio domba yang dikembangkan dalam rahim buatan oleh tim peneliti dari Rumah Sakit Philadelphia, Amerika Serikat, pada April 2017. Foto kiri adalah kondisi domba saat awal masuk rahim buatan pada usia setara 23 minggu pada janin manusia. Kulit domba terlihat gundul tanpa bulu dan berwarna kemerahan. Sementara foto kanan adalah foto domba setelah dibiakkan dalam rahim buatan selama waktu tertentu. Kulit domba sudah berbulu dan warnanya menjadi putih pucat. Foto riset rahim buatan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications yang terbit 25 April 2017.

Inovasi bioteknologi rahim buatan memberi harapan baru untuk memperpanjang harapan hidup bayi yang lahir prematur. Namun, aplikasi temuan ini pada manusia masih menghadapi persoalan etis dan hukum. Meski bermanfaat, rahim buatan juga akan berdampak pada budaya, sistem sosial hingga politik, jika tidak dikendalikan.

Tepat lima tahun lalu, April 2017, peneliti di Rumah Sakit Anak Philadelphia (CHOP), Amerika Serikat, yang dipimpin ahli bedah janin Alan Flake mengumumkan temuan mereka tentang rahim buatan yang disebut biobag. Inovasi itu akan meningkatkan kelangsungan hidup bayi yang lahir prematur sekaligus meningkatkan kualitas perawatan dari penggunaan inkubator bayi sekarang.

Editor:
ADHITYA RAMADHAN
Bagikan
Logo Kompas
Logo iosLogo android
Kantor Redaksi
Menara Kompas Lantai 5, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, 10270.
+6221 5347 710
+6221 5347 720
+6221 5347 730
+6221 530 2200
Kantor Iklan
Menara Kompas Lantai 2, Jalan Palmerah Selatan 21, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, 10270.
+6221 8062 6699
Layanan Pelanggan
Kompas Kring
+6221 2567 6000