logo Kompas.id
Ilmu Pengetahuan & TeknologiCegah dengan Deteksi Dini Kelainan Jantung

Cegah dengan Deteksi Dini Kelainan Jantung

JAKARTA KOMPAS &mdash Mengobati kelainan jantung sejak dini bisa mencegah terjadinya hipertensi paru penyakit langka yang berakibat fatal Deteksi kelainan jantung hendaknya dilakukan sejak bayi baru lahirHipertensi paru mengakibatkan pembuluh darah di paru-paru menebal sehingga sukar mengal

· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Mengobati kelainan jantung sejak dini bisa mencegah terjadinya hipertensi paru, penyakit langka yang berakibat fatal. Deteksi kelainan jantung hendaknya dilakukan sejak bayi baru lahir."Hipertensi paru mengakibatkan pembuluh darah di paru-paru menebal sehingga sukar mengalirkan darah. Kinerja jantung memompa darah semakin berat, apabila tidak diobati akan mengakibatkan gagal jantung kanan," kata Bambang Budi Siswanto, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Harapan Kita, pada diskusi bertema "Mengenal Lebih Dekat Hipertensi Paru" yang diselenggarakan Pfizer di Jakarta, Kamis (4/5).Hipertensi paru mengakibatkan tekanan darah di paru-paru lebih besar dari tekanan normal, yaitu 25 milimeter Merkuri (mmHg) ketika beraktivitas ringan, seperti berjalan kaki, ataupun melakukan rutinitas harian. Pada hipertensi paru yang parah, tekanan darah juga meninggi di kala istirahat. Gejalanya adalah sesak napas terus-menerus tanpa diketahui penyebabnya. Apabila difoto dengan rontgen, tampak jantung bagian kanan membengkak. Gejala lanjutan adalah bibir dan kuku membiru serta pembengkakan di perut dan kaki. "Sebanyak 53 persen pasien hipertensi paru adalah orang dengan penyakit jantung bawaan, disusul dengan masalah katup jantung, kekentalan darah di paru dan jantung, serta adanya jaringan ikat di paru-paru," papar Bambang.Obati jantung bawaanPencegahan pertama hipertensi paru adalah operasi jantung sedini mungkin bagi orang yang lahir dengan penyakit jantung bawaan. Ciri bayi dengan kelainan jantung adalah ketika disusui cepat lelah sehingga sukar menerima asupan. Pada anak-anak dan remaja, gejalanya sesak napas saat beraktivitas."Permasalahannya, biaya operasi jantung mahal dan daftar tunggunya bisa hingga dua tahun," ujar Bambang.Pengurus Yayasan Hipertensi Paru Indonesia, Dhian Deliani, menjelaskan, apabila positif hipertensi paru, pasien harus mengonsumsi obat seumur hidup. Dari 14 jenis obat, baru ada 4 jenis obat di Indonesia. "Biaya pengobatan Rp 10 juta hingga Rp 45 juta sebulan," kata Dhian yang juga mengidap hipertensi paru.Para anggota yayasan mengakali hal itu dengan saling berbagi obat. Jika ada anggota meninggal, obat-obatnya dibagikan kepada anggota lain.Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, prevalensi hipertensi paru adalah 2 orang per 1 juta penduduk. Perempuan berisiko lebih tinggi. Setengah dari kasus hipertensi paru tidak tertangani. (DNE)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..