logo Kompas.id
Ilmu Pengetahuan & TeknologiIndonesia Harus Memperjelas Posisi

Indonesia Harus Memperjelas Posisi

JAKARTA KOMPAS &mdash Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan regulasi lingkungan rezim Presiden Barack Obama diperkirakan tak banyak berpengaruh bagi program perubahan iklim Indonesia Namun Indonesia harus menghadapi keputusan Trump tersebut dengan memperjelas posisi d

· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan regulasi lingkungan rezim Presiden Barack Obama diperkirakan tak banyak berpengaruh bagi program perubahan iklim Indonesia. Namun, Indonesia harus menghadapi keputusan Trump tersebut dengan memperjelas posisi dalam perundingan iklim. "Indonesia harus mengarusutamakan adaptasi dan menuntut negara maju membayar historical climate debt (sejarah utang iklim negara maju)," kata aktivis Yayasan Madani, Muhammad Teguh Surya, di Jakarta, Jumat (31/3).Ia meminta pemerintah tak mengambil strategi jalan tengah untuk menyenangkan semua pihak dalam perundingan perubahan iklim. Indonesia harus memperkuat blok Selatan-Selatan untuk menghadapi kekuatan diplomasi negara maju.Menurut Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Khalisah Khalid, keputusan Trump tersebut berdampak semakin tidak jelasnya bentuk tanggung jawab negara-negara industri mengambil peran yang lebih besar dalam upaya perubahan iklim.AS sebagai negara maju seharusnya menjadi negara paling bertanggung jawab dan mengambil peran lebih besar dalam memerangi perubahan iklim. "Kebijakan Trump ini tampaknya mencoba mengalihkan tanggung jawab tersebut," ujarnya. Pada skala global, kata Muhammad Zahrul Muttaqin, peneliti di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi, Kebijakan, dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, langkah Trump itu akan menghalangi upaya dunia menekan peningkatan suhu di bawah 1,5-2 derajat celsius. Keputusan Trump yang menggenjot penggunaan energi kotor, seperti batubara, membahayakan upaya global penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Sejak zaman Obama, AS berangsur-angsur mengonversi energi fosil dengan energi terbarukan. Perhitungan emisi GRK dari komitmen global, 189 negara, pada Kesepakatan Paris (Paris Agreement) 2015 menunjukkan, dunia terancam peningkatan suhu lebih dari 2 derajat celsius dibandingkan masa praindustri. Menurut analisis World Resources Institute yang termuat pada www.wri.org, tindakan mundur dari Kesepakatan Paris akan menyebabkan negara-negara lain, 188 negara, enggan berhubungan dengan AS untuk isu-isu lain dan akan memengaruhi daya saing AS di dunia yang menuju pasar ramah lingkungan. Selama ini, AS merupakan negara yang berperan sebagai pemimpin dalam isu perubahan iklim. (ICH/ISW)

Editor:
Bagikan
Memuat data..