logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanTerus Membatik di Tengah Hantaman Pandemi

Terus Membatik di Tengah Hantaman Pandemi

Setelah penetapan sebagai warisan budaya tak benda dari UNESCO 11 tahun lalu, batik semakin dikenal masyarakat. Upaya pelestarian batik tetap berjalan meski pada saat bersamaan muncul tantangan serius pandemi Covid-19.

Oleh Mediana
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Ruqayah (53) menyelesaikan penjahitan masker kain batik buatan Batik Tradisiku, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2020). Selain melakukan regenerasi para pembatiknya, inovasi produk menjadi salah satu cara tempat pembuatan batik ini untuk bertahan di tengah pandemi, seperti memproduksi masker bermotif batik.

Peringatan Hari Batik Nasional  2020 berlangsung di tengah kelesuan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19. Namun, ada berkah di baliknya. Pandemi mendorong makin masifnya sosialisasi batik sebagai warisan budaya tak benda melalui platform digital.

Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya mengatakan, suplai kain batik menumpuk, tetapi permintaan lesu. Sebagai gambaran, di Cirebon, Jawa Barat, sekitar 50 perajin batik dengan modal di bawah Rp 200 juta mengalami kebangkrutan. Mereka telah memproduksi kain batik selama Januari-Maret 2020, tetapi penjualan lesu sejak April sampai sekarang. Pengepul kain batik juga enggan menerima. Sejumlah pameran wastra atau produk industri kreatif batal digelar.

Editor: Aloysius Budi Kurniawan
Bagikan
Memuat data..