logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanPelatihan Guru Harus Berkesinambungan

Pelatihan Guru Harus Berkesinambungan

JAKARTA KOMPAS &mdash Pelatihan yang berkesinambungan dan berdasar studi kasus akan memungkinkan guru memiliki kemampuan mengelola kelas dengan baik Karena itu organisasi profesi guru berupaya agar pelatihan bisa diakses semua guru Pelatihan dari pemerintah ada tetapi biasanya tidak ruti

· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Pelatihan yang berkesinambungan dan berdasar studi kasus akan memungkinkan guru memiliki kemampuan mengelola kelas dengan baik. Karena itu, organisasi profesi guru berupaya agar pelatihan bisa diakses semua guru. "Pelatihan dari pemerintah ada, tetapi biasanya tidak rutin dan bersifat undangan. Lokasi pelatihan juga di Jakarta atau ibu kota provinsi sehingga tidak semua guru bisa menghadirinya," kata Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahim, di Makassar, Sulawesi Selatan, saat dihubungi dari Jakarta, akhir pekan lalu.Karena itu, IGI melakukan pelatihan sejawat di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota. Tujuannya agar para guru yang belum mengikuti pelatihan dari pemerintah bisa mendapat pengetahuan baru dan peningkatan kapasitas. Penjadwalan pelatihan juga bisa dilakukan sesering mungkin."Materi pelatihan dan solusi diskusi selalu diunggah ke situs dan media sosial IGI agar bisa diakses oleh semua guru," kata Ramli. Materi pelatihan sejawat, katanya, berupa contoh kasus pengalaman guru mengajar di kelas yang kemudian didiskusikan dengan peserta untuk dicari pemecahannya bersama-sama.Untuk memastikan pelatihan berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas guru, sertifikat baru diberikan apabila guru tersebut mengirim bukti penerapan ilmu yang baru mereka pelajari di sekolah masing-masing. Perkembangan penerapan hasil pelatihan juga diunggah di internet agar bisa menjadi pelajaran bagi guru-guru lain.Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) juga melakukan pelatihan, tetapi sasarannya lebih luas. "Dasar utama pengelolaan kelas yang baik adalah kesadaran guru-guru untuk menciptakan iklim sekolah yang ramah anak," ujar Ketua Umum FGII Tety Sulastri.Pengelolaan kelas yang baik dimulai dengan merancang jadwal pembelajaran serta membangun kesadaran bahwa setiap siswa memiliki cara masing-masing dalam menyerap pelajaran. Tety mengatakan, prinsip pengelolaan kelas yang baik dimulai dari kesadaran guru terhadap perbedaan tiap siswa dan menjadikan hal itu kekuatan.Salah satu guru yang proaktif mencari pelatihan adalah Idianto Mu'in, guru geografi SMAN 12 Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia mengatakan, pelatihan yang dilakukan pemerintah belum memberi hasil maksimal karena lebih banyak membahas teori pendidikan, bukan studi kasus berdasarkan pengalaman guru."Untuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran juga belum optimal karena sifatnya masih formalitas. Setiap kali bertemu lebih berupa ramah-tamah," ucapnya.Untuk mengikuti pelatihan, kata Idianto, juga sulit karena jadwal yang padat tidak memungkinkan dirinya bisa meninggalkan tugas. Namun, ia membangun jejaring dengan guru-guru lain. Setiap kali ada rekan yang mengikuti pelatihan, ia selalu meminta materi dan mendiskusikan hal-hal yang dibahas di pelatihan tersebut. (DNE)

Editor:
Bagikan
Memuat data..