logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanPendidikan Jangan Menjauhkan dari Tradisi

Pendidikan Jangan Menjauhkan dari Tradisi

JAKARTA KOMPAS &mdash Pendidikan nasional yang bisa melayani masyarakat dengan situasi khusus seperti masyarakat adat belum terwujud Umumnya praktik pendidikan untuk anak-anak masyarakat adat masih menjauhkan mereka dari tradisi tetapi belum mampu memberi mereka tempat pada perubahan kebuda

· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Pendidikan nasional yang bisa melayani masyarakat dengan situasi khusus, seperti masyarakat adat, belum terwujud. Umumnya praktik pendidikan untuk anak-anak masyarakat adat masih menjauhkan mereka dari tradisi, tetapi belum mampu memberi mereka tempat pada perubahan kebudayaan Nusantara yang pesat. Karena itu, harus ada rumus pendidikan yang baik agar praktik pendidikan tidak menjauhkan anak-anak masyarakat adat dari tradisi. Dengan demikian, diharapkan anak-anak tersebut bisa menavigasi perkembangan kebudayaan ke arah positif. "Mendidik anak-anak masyarakat adat tidak bisa dengan cara mempraktikkan langsung petunjuk yang ada di buku teks," kata pendiri Sokola Rimba, Saur Marlina Manurung, pada acara Bincang Pagi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang Seminar Peran Kebudayaan dalam Pembangunan, Kamis (30/3), di Jakarta. Acara ini merupakan pengantar untuk seminar nasional yang akan diadakan pada 4 April mendatang. Seminar akan membahas pentingnya memandang kebudayaan Indonesia yang utuh dalam proses pembangunan, tak hanya sektor ekonomi.Saur yang akrab dipanggil Butet mengemukakan pentingnya kemampuan guru-guru yang bertugas di masyarakat pedalaman, terutama masyarakat adat, untuk memahami budaya setempat. "Belajar bahasa lokal merupakan sebuah keniscayaan karena dengan bahasa itu kita bisa memasukkan konten pendidikan kepada siswa," katanya.Melalui bahasa, lanjut Butet, guru bisa memahami pola pikir lingkungan tempat siswa dibesarkan dan menggabungkannya ke dalam materi pembelajaran sehingga tercipta kurikulum yang unik. Namun, kendala di lapangan adalah guru belum terlalu sigap menangkap budaya lokal. Bahkan, ada yang bersikeras menggunakan contoh-contoh pembelajaran yang tidak masuk dalam pemikiran anak-anak masyarakat adat sehingga mereka semakin kesulitan belajar.Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas Amich Alhumami menerima kritik tersebut sebagai masukan kepada pemerintah. "Tandanya, banyak guru yang pemahaman teori pedagogisnya sangat kaku sehingga wawasan praktik langsung di masyarakat yang unik belum maksimal terasah," ujarnya.Karena itu, kata Amich, dalam reformasi lembaga pendidikan tenaga kependidikan, materi guru praktik mengajar di berbagai masyarakat akan dipertajam. Tidak hanya masyarakat adat, setiap masyarakat perkotaan dan pedesaan memiliki kekhasan masing-masing yang jika dimanfaatkan dalam pendidikan bisa memberi kemajuan."Pendidikan membuka wawasan anak-anak masyarakat adat agar bisa mengetahui hal-hal di luar wilayah mereka. Semakin bertambah ilmu mereka, semakin pandai mereka mengambil manfaat dari perubahan yang terjadi," tutur Butet. Rumus itu tidak bisa dibuat di Jakarta, kata Butet, tetapi di lapangan melalui kepekaan seorang guru menangkap hal yang terjadi di sekitar. Melestarikan budaya bukan berarti memuseumkan masyarakat adat, melainkan memastikan nilai-nilai luhur tetap dijaga. "Anak-anak masyarakat adat juga ingin maju dan sukses sambil melestarikan adat istiadat mereka," ujarnya. (DNE)

Editor:
Bagikan
Memuat data..