logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanSisa Kapal PD II Terbengkalai

Sisa Kapal PD II Terbengkalai

JAKARTA KOMPAS &mdash Pertempuran Laut Jawa tanggal 27 Februari -1 Maret 1942 merupakan salah satu pertempuran laut terbesar dalam Perang Dunia II yang menewaskan sekitar 2300 tentara Sekutu dan menenggelamkan sejumlah kapal perang utama Namun sisa-sisa pertempuran itu kini terbengkalaiTepa

· 3 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Pertempuran Laut Jawa tanggal 27 Februari -1 Maret 1942 merupakan salah satu pertempuran laut terbesar dalam Perang Dunia II yang menewaskan sekitar 2.300 tentara Sekutu dan menenggelamkan sejumlah kapal perang utama. Namun, sisa-sisa pertempuran itu kini terbengkalai.Tepat 75 tahun silam, armada gabungan Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia (ABDA) bertempur sengit melawan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) di perairan sebelah utara Surabaya dan Pulau Bawean, Jawa Timur. Pertempuran ini kemudian berlanjut hingga ke perairan Selat Sunda di Teluk Banten. Dalam pertempuran tahap pertama di dekat Bawean, Belanda kehilangan kapal penjelajah ringan (light cruiser) HNLMS Java, HNLMS De Ruyter, dan kapal perusak HNLMS Kortenaer. Inggris kehilangan 1 kapal penjelajah berat (heavy cruiser), HMS Exeter, dan 3 kapal perusak, HMS Jupiter, HMS Encounter, dan HMS Electra. Sementara AS kehilangan 4 kapal perusaknya, yakni USS Alden, USS John D Edwards, USS John D Ford, dan USS Paul Jones.Pada tahap akhir pertempuran di Teluk Banten, 28 Februari 1942, kapal penjelajah kebanggaan Angkatan Laut AS, USS Houston, ditenggelamkan bersama kapal penjelajah Australia, HMAS Perth. Satu kapal selam AS, USS Perch, juga ditenggelamkan di dekat Surabaya pada 3 Maret 1942. "Ini adalah salah satu pertempuran laut terbesar dalam Perang Dunia II yang menewaskan sekitar 2.300 pelaut Sekutu, termasuk 220 pelaut Indonesia. Dalam tempo begitu singkat, Sekutu kehilangan sekitar 10 kapal. Titik lokasi keberadaan sebagian kapal yang karam sudah diketahui," kata arkeolog bawah air dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), Shinatria Adhityatama, Selasa (28/2), di Jakarta.Sasaran penjarahanNamun, berdasarkan peninjauan Puslit Arkenas di lapangan dan laporan para penyelam swasta, kondisi bangkai kapal-kapal perang yang karam itu makin parah. Beberapa bagian tubuh kapal telah dipotong-potong dan dijarah orang-orang tak bertanggung jawab.Kapal-kapal Belanda yang tenggelam pada kedalaman 70-110 meter di dekat perairan Pulau Bawean, misalnya-sebagian sudah terpotong-potong-menjadi sasaran aksi penjarahan besi tua. Kapal HMAS Perth yang karam pada kedalaman 35 meter di Selat Sunda pun tak luput dari aksi penjarahan."Menyikapi hal ini, Pemerintah Australia tahun 2014 lalu menghubungi Puslit Arkenas untuk melakukan penelitian bersama demi penyelamatan HMAS Perth," katanya. Dari sekian banyak kapal perang yang tenggelam dalam Perang Dunia II di wilayah Nusantara, baru satu kapal, yaitu HMAS Perth, yang diteliti secara intensif oleh Puslit Arkenas bekerja sama dengan The Australian National Maritime Museum. Menurut rencana, kapal ini akan direkomendasikan sebagai cagar budaya nasional yang bisa jadi model awal penelitian kapal-kapal karam lain di seluruh Indonesia. Selain perlu dikonservasi, peninggalan di bawah air ini juga perlu diamankan dari masyarakat mengingat masih banyak tersisa senjata dan amunisi yang diduga masih aktif di sana.Dalam pembukaan pameran dan peringatan 75 tahun Pertempuran Laut Jawa di Museum Bahari Jakarta, Senin malam, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B Pandjaitan mengatakan, peringatan ini mengingatkan nilai penting perairan Indonesia di dunia. Pada kesempatan sama, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menyebut sejarah maritim Indonesia termasuk sejarah bersama yang menjadi pembuka jalan bagi kemerdekaan Republik Indonesia. Pameran di Museum Bahari ini juga terselenggara dengan kerja sama pihak Inggris, AS, Belanda, Australia, dan Jepang.Sejarawan Institut Sejarah Militer Belanda (NIMH), Anselm van der Piet, yang ditemui dalam pembukaan pameran tersebut, mengatakan, rangkaian peringatan 75 Tahun Pertempuran Laut Jawa juga dilakukan di Pemakaman Militer Belanda di Kembang Kuning, Surabaya, dan di Den Haag, Belanda. "Jangan lupakan para pelaut Indonesia yang waktu itu bertugas di Angkatan Laut Belanda. Mereka sangat berani. Banyak personel pelabuhan yang desersi, tetapi para pelaut Indonesia dan teman-temannya pelaut Belanda tetap bertahan di kapal mereka dan berangkat menyongsong armada Jepang di Laut Jawa, meski tahu kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil," katanya. (ABK/ONG)

Editor:
Bagikan
Memuat data..