Pendidikan & KebudayaanPartisipasi Publik Meningkat

Partisipasi Publik Meningkat

JAKARTA KOMPAS &mdash Kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi juga kasus kekerasan seksual banyak menyita perhatian publik sepanjang 2016 Dalam kasus kekerasan seksual mayoritas korban adalah anak perempuan dan pelakunya juga masih anak-anak Banyaknya kasus pemerkosaan t

· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi, juga kasus kekerasan seksual, banyak menyita perhatian publik sepanjang 2016. Dalam kasus kekerasan seksual, mayoritas korban adalah anak perempuan dan pelakunya juga masih anak-anak. Banyaknya kasus pemerkosaan terhadap anak perempuan ini menimbulkan kemarahan publik dan mendorong gerakan sosial yang mendesak pemerintah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Pemerintah pun menetapkan pemerkosaan sebagai kejahatan luar biasa serta menetapkan pemberatan hukuman dalam bentuk hukuman kebiri dan hukuman mati kepada pelaku pemerkosaan terhadap anak."Gerakan sosial yang mendorong pemerintah mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual bertujuan untuk memberikan perlindungan yang komprehensif kepada korban dan mencegah berulangnya kekerasan," ujar Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Azriana saat menyampaikan Laporan Tahunan Komnas Perempuan 2016, Rabu (8/2), di Jakarta.Komnas Perempuan mencatat, sepanjang 2016, keterlibatan publik dalam menyebarluaskan pemahaman tentang kekerasan terhadap perempuan dan upaya pencegahan serta penghapusannya meningkat, terutama dalam kekerasan seksual. Dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada akhir 2016, misalnya, tercatat 160 kegiatan yang diinisiasi berbagai elemen masyarakat di Tanah Air. Tak hanya itu, ada peningkatan partisipasi publik dalam pendampingan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).Catatan Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan pada 2015 sebanyak 321.752 kasus, meningkat 9 persen dibandingkan 2014. Kekerasan fisik dalam rumah tangga mendominasi kekerasan terhadap perempuan (38 persen), disusul kekerasan seksual. Dari 321.752 kasus itu, 16.217 kasus ditangani lembaga berbasis masyarakat dan pemerintah.Komnas Perempuan juga mencatat, kriminalisasi korban KDRT sepanjang 2016 masih terus terjadi. Sebagian besar kriminalisasi terhadap korban KDRT dilakukan oleh suami atau mantan suami. Polanya adalah, setelah bercerai, pelaku (suami) melaporkan korban dengan berbagai tuduhan, yaitu penganiayaan, diskriminasi terhadap anak, laporan palsu, ataupun tuduhan pemalsuan kartu tanda penduduk. Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Situasi Darurat dan Kondisi Khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Nyimas Aliah mengapresiasi Laporan Tahunan Komnas Perempuan 2016. Hingga kini, kasus kekerasan terhadap perempuan mendapat perhatian pemerintah. Bahkan, Kementerian PPPA tahun ini menggencarkan program Three Ends, yakni mengakhiri perdagangan manusia, kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta kesenjangan ekonomi. "Saat ini, makin meningkat jumlah daerah yang datang berkonsultasi ke Kementerian PPPA untuk membahas peraturan daerah tentang perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan," katanya. (SON)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..