logo Kompas.id
HumanioraOlahraga di Indonesia Belum...
Iklan

Olahraga di Indonesia Belum Ramah Anak dan Perempuan

Lebih dari sepekan Tragedi Kanjuruhan berlalu, tetapi duka masih menaungi masyarakat Indonesia. Jatuhnya ratusan korban, termasuk anak-anak dan perempuan, menunjukkan pertandingan olahraga belum ramah anak dan perempuan.

Oleh
SONYA HELLEN SINOMBOR
· 5 menit baca
Kesedihan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di RS Wava Husada, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Rumah sakit ini merupakan salah satu dari sejumlah rumah sakit yang menangani korban kerusuhan suporter sepak bola. Sedikitnya 131 suporter meninggal dalam kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang, saat pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam BRI Liga 1. Saat itu, Arema FC menelan kekalahan 3-2 dari tamunya.
KOMPAS/DAHLIA IRAWATI

Kesedihan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di RS Wava Husada, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Rumah sakit ini merupakan salah satu dari sejumlah rumah sakit yang menangani korban kerusuhan suporter sepak bola. Sedikitnya 131 suporter meninggal dalam kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang, saat pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam BRI Liga 1. Saat itu, Arema FC menelan kekalahan 3-2 dari tamunya.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2022), yang menewaskan hingga 131 orang meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Di antara para korban yang meninggal terdapat perempuan dan anak-anak, dengan jumlah korban anak lebih dari seperempat dari total korban.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam keterangan pers pada pekan lalu menyebutkan, berdasarkan data sementara korban Tragedi Kanjuruhan yang didapatkan dari Posko Postmortem Crisis Center Pemerintah Kabupaten Malang, Selasa (4/10/2022) pukul 02.00, total korban meninggal dunia sebanyak 133 orang.

Editor:
ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Bagikan