logo Kompas.id
HumanioraBeradaptasi dengan Tatanan...

Beradaptasi dengan Tatanan Hidup Baru

Pandemi berdampak pada seluruh sektor kehidupan. Meski berat dan penuh luka, tidak ada jalan lain yang bisa kita lakukan selain beradaptasi dengan menjalani pola kehidupan baru.

Oleh
MUCHAMAD ZAID WAHYUDI
· 1 menit baca
Robot pelayan bernama Kitty mengantarkan pesanan pelanggan di kafe Rasa Koffie, Jakarta, Sabtu (15/1/2022). Penggunaan robot pelayan tersebut merupakan salah satu upaya mengurangi kontak fisik antara pelayan dan konsumen di kafe pada masa pandemi Covid-19. Bisnis ”coffee shop” mengalami penurunan penjualan yang signifikan selama PPKM. Selain itu, pola konsumsi di masa pandemi juga berubah, konsumen lebih banyak melakukan pembelian secara ”take away” atau dibawa pulang atau memesan melalui platform daring.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD)

Robot pelayan bernama Kitty mengantarkan pesanan pelanggan di kafe Rasa Koffie, Jakarta, Sabtu (15/1/2022). Penggunaan robot pelayan tersebut merupakan salah satu upaya mengurangi kontak fisik antara pelayan dan konsumen di kafe pada masa pandemi Covid-19. Bisnis ”coffee shop” mengalami penurunan penjualan yang signifikan selama PPKM. Selain itu, pola konsumsi di masa pandemi juga berubah, konsumen lebih banyak melakukan pembelian secara ”take away” atau dibawa pulang atau memesan melalui platform daring.

Meski munculnya varian Omicron virus SARS-CoV 2 dianggap sebagai tanda akan berakhirnya pandemi Covid-19, tidak ada yang bisa memprediksi pasti kapan keadaan ini benar-benar berakhir. Kalaupun berakhir, manusia diprediksi akan mengadopsi gaya hidup baru yang lebih banyak mengonsumsi teknologi, seperti yang dijalani selama dua tahun terakhir.

Selama hampir dua tahun ini, kita hidup dengan kenormalan baru. Semua sektor kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat hingga negara harus beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru demi menghadapi pandemi. Menurun dan terkendalinya kasus Covid-19 menunjukkan aturan baru yang diberlakukan itu efektif menanggulangi pandemi.

Editor:
EVY RACHMAWATI
Bagikan