logo Kompas.id
HumanioraPerokok Pemula Bertambah, Belum Ada Perlindungan Optimal

Perokok Pemula Bertambah, Belum Ada Perlindungan Optimal

Tingginya prevalensi perokok pemula mengancam kesehatan generasi penerus bangsa di masa depan. Namun, perlindungan anak dan remaja dari konsumsi rokok belum maksimal.

Oleh Deonisia Arlinta
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/PRIYOMBODO

Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) dan Solidaritas Advokad Pengendalian Tembakau Indonesia menggelar aksi damai menolak asap dan puntung rokok di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (26/4/2015). Mereka mendukung adanya Framework Convention on Tobacco Control di Indonesia guna mengendalikan produksi dan konsumsi rokok.

JAKARTA, KOMPAS — Prevalensi perokok pemula pada usia 10-13 tahun terus meningkat. Efek ketergantungan jangka panjang pun menguat. Hal itu berarti generasi muda kian berisiko mengalami berbagai penyakit di masa depan. Jika tidak ada upaya perlindungan berarti, beban kesehatan meningkat dan pembangunan bangsa terancam.

Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi merokok pada usia 10-18 tahun sebesar 7,2 persen. Jumlah itu terus meningkat menjadi 8,8 persen (Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016) dan 9,1 persen (Riskesdas 2018). Pemerintah menargetkan prevalensi perokok pemula bisa menurun jadi 5,4 persen pada 2019.

Editor: evyrachmawati
Bagikan