logo Kompas.id
Gaya HidupMilitansi K-Popers di Dunia...
Iklan

Militansi K-Popers di Dunia Maya, Kekuatan Besar yang Tersembunyi

Mereka semula dianggap remeh dan menyebalkan oleh warganet. Kendati demikian, K-popers punya kekuatan untuk membangun sentimen publik.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/jTGnVCs_eSjTByAFgsa0ahrPuaU=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F09%2F69814230.jpg
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Penggemar ”boyband” Korea Selatan, Super Junior, memenuhi barisan terdepan penonton yang antusias menyaksikan upacara penutupan Asian Games 2018 melalui layar raksasa di kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/9/2018). Para penggemar grup musik asal Korea Selatan atau yang lebih dikenal dengan istilah K-popers kini menjadi fenomena sosial yang luar biasa. Gerakan sosial yang mereka bikin di luar hal-hal tentang idolanya dinilai sangat militan.

JAKARTA, KOMPAS — Basis penggemar K-pop sangat besar, solid, dan tersebar di penjuru dunia. Gerakan militan mereka tidak hanya menghasilkan topik populer di media sosial. Mereka punya andil besar mengangkat isu publik, seperti RUU Cipta Kerja, Black Lives Matter, hingga berhasil ”mengerjai” Donald Trump saat kampanye.

Penggemar K-pop atau K-popers jadi salah satu pihak yang vokal menolak RUU Cipta Kerja. Menurut data Drone Emprit, pembahasan RUU Cipta di Twitter berlangsung sejak 4 Oktober 2020 dengan kata kunci Omnibus Law, OmnibusLaw, Ciptaker, dan Cipta Kerja. Hanya ada satu kluster besar dari pembahasan ini, yakni kontra terhadap RUU Cipta Kerja. Adapun akun K-popers, badan eksekutif mahasiswa (BEM), lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan aktivis termasuk dalam kluster ini.

Editor:
khaerudin
Bagikan