logo Kompas.ID

Fotografi

FotografiFoto CeritaKampung Sembilangan Berdamai dengan Rob
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Foto Cerita
Bebas Akses

Kampung Sembilangan Berdamai dengan Rob

Oleh AGUS SUSANTO ·

Sidiq (75) duduk di bangku kayu di beranda rumahnya dengan kaki menggantung. Mata kakinya masih menyentuh limpasan air laut. Banjir laut, demikian warga setempat menamakan limpasan air laut atau rob, adalah hal biasa dan risiko yang harus dihadapi warga di pesisir utara Bekasi, Jawa Barat.

”Dari kecil dan besar di sini, kami sudah terbiasa dengan datangnya banjir laut dan hafal kapan akan tiba dan pergi,” kata Sidiq.

Dari rumahnya di sekitar SDN Samudra Jaya 03, kami berjalan kaki menembus rob sepanjang 1,7 kilometer hingga makam keramat Kumpi Kuyu Malafiyah binti Syahwal. Meski jalan kampung yang hanya bisa dilewati sepeda motor sudah dibeton dan ditinggikan, di beberapa lokasi, jalan sudah mengelupas dan terputus terkena rob.

Maimuna (70) duduk santai di bangku kayu ditemani cucunya menunggu banjir rob surut. ”Lahir ceprot di sini, banjir laut adalah hal biasa, paling dalam sehari hanya berlangsung selama empat jam, beda dengan banjir darat (banjir dari muara Sungai Cikeas) yang bisa berlangsung penuh hingga satu minggu dan kami harus mengungsi,” pungkasnya.

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Kampung Sembilangan

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Potret Sidiq (75)

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Berhati-hati

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Menunggu Surut

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Menggenangi Pemakaman Umum

Limpasan air laut sudah memasuki hari keempat pada Kamis (19/11/2020) dan menggenangi Kampung Sembilangan yang berada di dua desa dan dipisahkan oleh hutan bakau Sungai Jingkem di pesisir utara Bekasi. Dua desa tersebut adalah Desa Samudra Jaya, Kecamatan Tarumajaya, dan Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Rob menggenangi ratusan rumah dengan ketinggian 30-50 sentimeter. Air laut mulai naik pukul 09.00 dan surut mulai pukul 14.00.

Baca juga : Yogya Selepas Tengah Malam

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Ditinggalkan Penghuninya

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Mainan Terendam

 

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Sepeda Motor Berkarat

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Jemur Pakaian

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Memilih Pijakan

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Perahu di Depan Rumah

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Sisa Rob yang Masuk Kelas

Tak hanya limpasan air laut yang menimpa kawasan pesisir, fenomena cuaca La Nina juga meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi hingga awal 2021 di Tanah Air. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak Januari lalu telah terjadi lebih dari 2.530 bencana.

Baca juga : Rehat Sejenak di Mpok Cafe JPG

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Maimuna (70) dan Cucunya

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Jemuran Pakaian

Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Pintu dan Jendela Tertutup

Editor Demitrius Wisnu Widiantoro
Memuat data...
Memuat data...