FotografiKlinik FotoPenyelundupan Kartu Memori Foto yang Berbuah Pulitzer
AP PHOTO/DAR YASIN
Foto Cerita

Penyelundupan Kartu Memori Foto yang Berbuah Pulitzer

Oleh YUNIADHI AGUNG ·

Di zaman sebuah foto peristiwa bisa ditayangkan oleh siapa pun dan dalam waktu yang singkat, maka seberapa besarkah nilai sebuah karya foto jurnalistik yang dihasilkan oleh pewarta foto?  Foto kebakaran karya warga yang berada di lokasi kejadian telah beredar luas di internet dan menjadi pesan foto bersambung di grup percakapan daring bahkan ketika pewarta foto sedang berusaha menuju ke tempat kebakaran.  Ekskusivitas foto karya pewarta foto kian hilang, mereka tidak bisa menandingi kemajuan teknologi yang telah menjadikan fotografi sebagai bagian hidup setiap orang.

Kerja jurnalistik tidaklah semudah yang dipikir oleh kebanyakan. Ini bukan sekadar membidik obyek, memencet tombol kamera, memindahkan foto dari kamera ke komputer, dan mengirim ke kantor media sebelum kemudian foto tersebut ditayangkan. Ada kalanya, untuk memotret pun seorang pewarta foto harus menghadapi kondisi yang membahayakan jiwa mereka. Belum lagi, jika mengirimkan foto  adalah hal yang sulit untuk dilakukan, upaya menayangkan sebuah peristiwa untuk dilihat oleh semua orang di penjuru dunia adalah sebuah perjuangan yang luar biasa.

Dar Yasin, Mukhtar Khan, dan Channi Anand adalah tiga pewarta foto yang bekerja untuk kantor berita AP. Saat terjadi kekerasan di Khasmir, India, pada 2019 lalu, mereka berada di tempat tersebut. Hanya saja, memotret pada saat itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kawasan Khasmir telah bergolak dalam beberapa tahun. Pada kerusuhan yang terjadi Agustus 2019 tersebut, Khasmir diblokir akses keluar masuknya dan koneksi internet serta telepon dimatikan. Selain itu, di Kahsmir juga dilakukan sweeping menyeluruh. Foto jurnalis dengan kameranya tentu saja menjadi salah satu profesi yang tidak akan lolos ketika kena sweeping. Dalam kondisi yang sulit, ketiga pewarta foto AP saat itu berusaha agar foto yang dihasilkan bisa keluar dari Khasmir. Mereka bahkan harus menerobos jalan yang diblokir, bersembunyi di rumah warga, dan menyembunyikan kamera mereka di tas berisi sayur-mayur.

Editor Iwan Setiyawan
Memuat data...
Memuat data...