logo Kompas.id
β€Ί
Ekonomiβ€ΊHilirisasi Butuh Waktu,...
Iklan

Hilirisasi Butuh Waktu, Larangan Ekspor Timah Diharapkan Bertahap

Hilirisasi tidak bisa dikebut. Perlu waktu untuk menarik investasi, mendirikan pabrik, mengembangkan kapasitas dan daya saing industri hilir, serta menyesuaikan kebijakan di hilir untuk mendorong ekspor produk turunan.

Oleh
agnes theodora
Β· 1 menit baca
Kegiatan penambangan timah yang dikelola PT Timah di tambang terbuka Pemali, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, Rabu (15/3). Jumlah produksi normal di tambang terbuka Pemali berkisar 100-150 ton timah per bulan. Namun, dalam tiga bulan terakhir produksi timah yang dihasilkan masih berada di bawah 50 ton per bulan karena faktor cuaca. Timah merupakan komoditas andalan bagi Provinsi Bangka Belitung.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Kegiatan penambangan timah yang dikelola PT Timah di tambang terbuka Pemali, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, Rabu (15/3). Jumlah produksi normal di tambang terbuka Pemali berkisar 100-150 ton timah per bulan. Namun, dalam tiga bulan terakhir produksi timah yang dihasilkan masih berada di bawah 50 ton per bulan karena faktor cuaca. Timah merupakan komoditas andalan bagi Provinsi Bangka Belitung.

JAKARTA, KOMPAS β€” Pelaku usaha membutuhkan waktu lebih kurang 10 tahun untuk mencapai hilirisasi yang optimal. Rencana pemerintah untuk menyetop ekspor timah mentah dan mendorong hilirisasi timah dalam waktu dekat pun diharapkan dilakukan secara bertahap untuk memberi ruang dan waktu pengembangan yang cukup bagi pelaku usaha.

Pejabat Sementara Wakil Ketua Umum Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Carmelita Hartoto, Minggu (25/9/2022), mengatakan, industri hulu timah telah memberi manfaat positif bagi ekonomi negara serta kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Namun, penyerapan logam timah untuk kebutuhan domestik masih sangat kecil.

Editor:
ARIS PRASETYO
Bagikan