logo Kompas.id
β€Ί
Ekonomiβ€ΊIkhtiar Melepaskan Diri dari...
Iklan

Ikhtiar Melepaskan Diri dari Batubara

Komitmen mengurangi emisi dengan menekan pemakaian energi fosil pada pembangkit listrik terus digaungkan. Namun, pemakaiannya masih dominan, termasuk batubara yang dituding sebagai sumber energi kotor.

Oleh
ADITYA PUTRA PERDANA
Β· 1 menit baca
PLTU Cilacap ekspansi fase 2 yang tengah diuji coba di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (16/9/2019). PLTU Cilacap ekspansi fase 2 merupakan pembangkit batubara dengan kapasitas 1 x 1.000 megawatt. PLTU ini akan memasok kebutuhan listrik Jawa-Bali.
KOMPAS/PRIYOMBODO

PLTU Cilacap ekspansi fase 2 yang tengah diuji coba di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (16/9/2019). PLTU Cilacap ekspansi fase 2 merupakan pembangkit batubara dengan kapasitas 1 x 1.000 megawatt. PLTU ini akan memasok kebutuhan listrik Jawa-Bali.

Dorongan untuk memanfaatkan energi terbarukan disertai komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca terus menggaung di tingkat global. Namun, kenyataan bahwa batubara, bahan bakar fosil, masih dominan belum tergantikan dalam pemenuhan energi tidaklah terelakkan. Akan tetapi, pengurangannya diupayakan, seperti dengan memanfaatkan biomassa di pembangkit listrik.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga akhir 2021, dari total kapasitas pembangkit listrik 73.736 megawatt (MW), kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih dominan, yakni mencapai sekitar 50 persen. Pada bauran energi, penyediaan listrik dengan batubara juga dominan, yakni lebih dari 65 persen.

Editor:
MUKHAMAD KURNIAWAN
Bagikan