logo Kompas.id
EkonomiSampah Makanan Indonesia...

Sampah Makanan Indonesia Mencapai Rp 330 Triliun

Setiap orang Indonesia rata-rata membuang makanan setara Rp 2,1 juta pertahun. Hasil analisis "Kompas" menemukan, nilai sampah makanan di Indonesia mencapai Rp 330 triliun pertahun.

Oleh
SATRIO PANGARSO WISANGGENI, M PUTERI ROSALINA, ALBERTUS KRISNA
· 4 menit baca
Petugas sedang mengoperasikan sejumlah traktor dan eksavator merapikan setiap sampah yang datang dibawa truk sampah dari segala penjuru Jakarta pada Selasa (26/04/2022).
ALBERTUS KRISNA

Petugas sedang mengoperasikan sejumlah traktor dan eksavator merapikan setiap sampah yang datang dibawa truk sampah dari segala penjuru Jakarta pada Selasa (26/04/2022).

JAKARTA, KOMPAS - Sampah makanan menjadi jenis sampah terbesar di Indonesia. Dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2020, sampah makanan mencapai 40 persen dari total sampah yang dihasilkan masyarakat di 199 kabupaten/kota. Harian Kompas menghitung angka pemborosan dari sampah makanan yang terbuang. Perhitungan menggunakan data konsumsi makanan perkapita di kabupaten/kota dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS masih menggunakan satuan porsi makanan. Satuan ini kemudian dikonversi menjadi berat setiap porsi yang dimakan.

Baca juga: Mubazir Pangan Selama Ramadhan dan Ekonomi Sirkular

Contohnya, BPS menggunakan satu porsi gado-gado. Kemudian dari satu porsi gado-gado ini dicari bobot makanannya. Data bobot makanan didapat dari laman www.fatsecret.com. Berat satu porsi gado-gado setara dengan 241 gram. Untuk mengetahui total konsumsi makanan di satu kabupaten/kota, data konsumsi perkapita dikalikan jumlah penduduk di kabupaten/kota tersebut. Dari sini diketahui, total konsumsi makanan di satu kabupaten/kota perhari.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/PwPTo88EFGqb5Gkc2iezcr0Hndw=/1024x3604/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F05%2F18%2Fbe7ef74b-a6bd-43d3-8a4a-39c49c42d501_png.png

Data ini lalu dibandingkan dengan data jumlah sampah makanan rumah tangga dari SIPSN. Dengan demikian diketahui berapa banyak sisa makanan yang tidak dikonsumsi dan terbuang menjadi sampah. Contohnya, Kota Tangerang berdasarkan data BPS, total konsumsi perkapita dalam sehari sebanyak 235,2 gram, sementara berdasarkan data SIPSN, sampah makanan perkapita yang terbuang terbuang setiap hari di Kota Tangerang mencapai 111 gram. Dalam sebulan konsumsi perkapita warga Kota Tangerang mencapai 7.056 gram.

Baca juga: Mengurangi Sampah Makanan

Kompas lalu menggunakan data BPS tentang konsumsi makanan perkapita dalam rupiah. Data ini dipakai untuk memberi nilai rupiah terhadap makanan yang terbuang. Di Kota Tangerang pengeluaran perkapita untuk makanan perbulan adalah Rp 893.810. Jika Rp 893.810 setara dengan 7.056 gram makanan, artinya, setiap satu gram makanan di Kota Tangerang senilai Rp 127. Bila sampah makanan perkapita tiap hari mencapai 111 gram, maka setiap orang di Kota Tangerang memboroskan uang senilai Rp 14.097 perhari atau sekitar Rp 5 juta pertahun.

Kehilangan ekonomi Dengan melakukan perhitungan yang sama di 199 kabupaten/kota ditemukan rata-rata setiap orang Indonesia melakukan pemborosan makanan sebesar Rp 2.141.614 per tahun. Secara total, menurut nilai makanan yang terbuang menjadi sampah di 199 kabupaten/kota di Indonesia dapat mencapai angka Rp 330,71 triliun dalam setahun. Angka ini berada dalam rentang hasil kalkulasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2021 yang menyatakan besaran kehilangan ekonomi Indonesia akibat sampah pangan adalah Rp 213-551 triliun per tahun. Tahun 2020 hanya ada 199 dari 514 kabupaten/kota yang melaporkan data komposisi sampah di SIPSN.

Dengan demikian, kondisi pemborosan makanan masyarakat Indonesia kemungkinan bisa lebih parah dari data yang ada. Di Jakarta misalkan, hanya Jakarta Barat yang melaporkan data komposisi sampah ke SIPSN. Komposisi sampah makanan di Jakarta Barat dapat mencapai 69,8 persen dari total sampah yang dihasilkan warga setiap tahun sebesar 719.768 ton. Jumlah sampah makanan di Jakarta Barat mencapai 502.183 ton setiap tahun. Baca juga: Harga Pangan Global dan Ketahanan Pangan Nasional

Seorang penjual bubur ayam keliling sedang melintas antrian truk yang hendak menurunkan sampah di TPA Bantar Gebang pada Selasa (26/04/2022).
ALBERTUS KRISNA

Seorang penjual bubur ayam keliling sedang melintas antrian truk yang hendak menurunkan sampah di TPA Bantar Gebang pada Selasa (26/04/2022).

Jika persentasi komposisi sampah makanan Jakarta Barat diasumsikan sama dengan wilayah lainnya di Jakarta, maka setiap tahun ada 2,13 juta ton sampah makanan yang dihasilkan provinsi ini. Apabila sampah makanan ini ditempatkan pada kotak nasi ukuran 20 cm x 20 cm serta tinggi 7 cm, lalu disusun dengan dasar seluas alas Monas (80x80 meter), sampah makanan di Jakarta tingginya mencapai 1.817 meter atau melampaui gedung pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Al Khalifa (828 meter). Sampah makanan di Jakarta bisa mencapai 14 kali ketinggian Monas dan lebih tinggi dari Gunung Kelud (1.731 mdpl). Kondisi sampah makanan di kota besar lainnya juga tak jauh berbeda. Di Surabaya, sampah makanan dapat mencapai 440.593 ton per tahun (2020). Bila disusun dalam kotak nasi ukuran yang sama dan diletakkan di atas alas seluas 80x80 meter, ketinggian sampahnya mencapai 376 meter atau melebihi 9 kali ketinggian Tugu Pahlawan (41,15 meter).

Kategori buruk

Menurut penelitian Barilla Center for Food & Nutrition, nilai indeks kehilangan dan kemubaziran pangan Indonesia masuk kategori buruk. Setiap tahun orang Indonesia membuang sampah makanan 300 kilogram dan masuk dalam peringkat tiga besar negara terburuk bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Baca juga: Pakta Milan, Kota, Limbah Pangan

Adapun penelitian Bappenas (2021), potensi sampah yang dihasilkan dari makanan yang terbuang sebelum diolah (food loss) dan sampah makanan (food waste) di Indonesia pada tahun 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara dengan 115-184 kg perkapita per tahun.

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar saat ditemui di kantornya di Jakarta, pada Selasa (19/4/2022) sore.
SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar saat ditemui di kantornya di Jakarta, pada Selasa (19/4/2022) sore.

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar mengatakan, perlu kampanye mengubah gaya hidup masyarakat untuk selalu menghabiskan makanan. KLHK telah mengeluarkan surat edaran kepada pemda untuk menggalakkan hidup minim sampah. Salah satu isinya adalah mengajak masyarakat makan tanpa sisa dan membuat kompos di rumah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto, saat ditemui di kawasan Blok M, Jumat (22/5/2022) sore.
SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto, saat ditemui di kawasan Blok M, Jumat (22/5/2022) sore.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menyusun instrumen hukum yang dapat menjadi landasan beroperasinya mekanisme penyelamatan sisa makanan berlebih dari pelaku usaha hotel restoran dan kafe untuk ketahanan pangan masyarakat prasejahtera.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, instrumen ini akan berbentuk sebuah peraturan gubernur. “Jadi dari toko, warung nasi, yang ketika akan tutup masih punya banyak makanan ini bisa kami dari Dinas LH jemput bersama NGO juga. Kita berharap, makanan yang berlebih ini tidak terbuang dan menjadi sampah,” kata Asep.

Editor:
KHAERUDIN
Bagikan