logo Kompas.id
EkonomiPertumbuhan yang Ramah dan...

Pertumbuhan yang Ramah dan Hijau

Seiring dengan meningkatnya kesadaran untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan, diluncurkanlah Taksonomi Hijau. Ini untuk mengurangi praktik, pembangunan ekonomi harus dibayar dengan kerusakan lingkungan.

Oleh
BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA
· 1 menit baca
Foto aerial perumahan warga diantara areal persawahan di Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/2/2020). Potensi pengembangan properti di timur Jakarta, terutama Bekasi mengalami kenaikan. Tren penjualan di Bekasi pada kuartal kedua 2019 sebesar 24,1 persen naik menjadi 24,3 persen.
AGUS SUSANTO

Foto aerial perumahan warga diantara areal persawahan di Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/2/2020). Potensi pengembangan properti di timur Jakarta, terutama Bekasi mengalami kenaikan. Tren penjualan di Bekasi pada kuartal kedua 2019 sebesar 24,1 persen naik menjadi 24,3 persen.

Selama ini, ada anggapan yang mengemuka bahwa untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi, ada ”harga” yang harus dibayar, yaitu kerusakan lingkungan dan berdampak secara sosial. Ada investasi pembangunan pabrik atau fasilitas yang menciptakan peningkatan nilai ekonomi, tetapi harus merusak lingkungan dan menggusur warga sekitar. Adapun investasi itu acap kali sebagian berasal dari pendanaan lembaga jasa keuangan, baik kredit bank maupun dengan berbagai instrumen di pasar modal.

Anggapan dan praktik inilah yang sedang dicoba untuk diubah. Semua berawal dari kesadaran menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang telah menyeruak dan menjadi tuntutan dunia. Ini tak lain karena perubahan iklim dunia kian nyata, bukan sekadar wacana.

Editor:
ARIS PRASETYO
Bagikan