logo Kompas.id
EkonomiInfrastruktur Gas Menjadi...

Infrastruktur Gas Menjadi Tantangan di Tengah Transisi Energi

Gas bumi memainkan peranan penting dalam transisi energi di Indonesia. Selain itu, pengembangan sumber energi terbarukan juga harus terus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dan batubara.

Oleh
ADITYA PUTRA PERDANA
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/5LM8eC2__KM3WkQlNg4GIzsQqH8=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F02%2F53a22f96-77b0-416d-bfda-9748365c6b4e_jpg.jpg
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Petugas PGN mendeteksi kebocoran jaringan gas dengan menggunakan alat LaseMethane Mini di Perumahan Budha Szu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (12/2/2020). Pemerintah melalui Perusahaan Gas Negara (PGN) akan membangun 266.000 jaringan gas rumah tangga di 49 kabupaten/kota. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan 10 juta sambungan gas rumah tangga terpasang dalam 5-10 tahun mendatang.

JAKARTA, KOMPAS — Gas alam, energi fosil yang lebih bersih dibandingkan dengan minyak bumi dan batubara, dapat dioptimalkan selama masa transisi energi menuju emisi nol bersih pada 2060 di Indonesia. Namun, ada tantangan dalam pengangkutan gas alam dari sumber gas menuju lokasi yang membutuhkan gas sebagai sumber energi primer.

Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN Arcandra Tahar, dalam ”Energy and Economic Outlook 2022”, yang digelar virtual, di Jakarta, Rabu (12/1/2022), mengatakan, persoalan infrastruktur menjadi tantangan dan kendala dalam pemanfaatan gas alam di Indonesia. Apabila di negara-negara lain kawasan industrinya didekatkan dengan sumber gas, tidak demikian dengan Indonesia. Misalnya, sumber gasnya ada di Papua, tetapi industri yang membutuhkan gas berlokasi di Karawang (Jawa Barat). Ada biaya yang mesti dikeluarkan (untuk pengangkutan).

Editor:
Aris Prasetyo
Bagikan