logo Kompas.id
EkonomiPLTU ”Co-firing” Terkendala Bahan Baku

PLTU ”Co-firing” Terkendala Bahan Baku

PLTU co-firing bisa mengurangi pemakaian batubara lewat pemanfaatan biomassa dari pelet kayu, sekam padi, dan cangkang kelapa sawit. Namun, dibutuhkan jaminan keberlanjutan pasokan biomassa tersebut.

Oleh ismail zakaria/fransiskus pati herin/emanuel edi saputra
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Akivitas di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Senin (11/10/2021). PLTU Sintang salah salah satu lokasi yang memiliki ketersediaan bahan bakar co-firing dalam hal ini cangkang sawit yang besar. Penghematan bahan bakar batu bara dapat dihemat hingga 10 persen dengan metode co-firing menggunakan cangkang sawit.

JAKARTA, KOMPAS — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menginisiasi metode co-firing di  sejumlah pembangkit listrik tenaga uap untuk mengurangi pemakaian batubara sejak 2020. Metode ini mencampurkan biomassa bersama batubara dengan kadar 5-10 persen untuk biomassa yang digunakan. Namun, ada masalah keberlanjutan pasokan biomassa di lapangan.

Ada 52 PLTU co-firing  dengan total kapasitas terpasang  2.000 megawatt (MW). Biomassa yang digunakan bermacam-macam, mulai dari sekam padi, pelet kayu, hingga cangkang kelapa sawit. Pasokan biomassa  dipenuhi dari masyarakat sekitar ataupun pengusaha lokal.

Editor: Aris Prasetyo
Bagikan