logo Kompas.id
EkonomiBelajar dari Kendaraan...

Belajar dari Kendaraan Berbahan Bakar Gas

Pengembangan kendaraan listrik dari hulu ke hilir di Indonesia mesti matang dan terintegrasi. Tak cukup infrastruktur dan manufaktur, insentif perpajakan dan akses informasi publik tentang kendaraan listrik juga penting.

Oleh
ARIS PRASETYO
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/P2nbyUboLHOosM784xfuQdFiwd0=/1024x655/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F12%2F2018%2F11%2Fe4%2F591%2F20181130TOK10jpg%2F20181130TOK10SILO.jpg
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Sopir bajaj antre mengisi bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) PGN Monas, Jakarta, Jumat (30/11/2018). Walaupun bajaj BBG juga memiliki tangki untuk bahan bakar minyak, tetapi para pengemudi bajaj lebih memilih mengisi BBG, karena ramah lingkungan dan harganya yang lebih murah.

Babak baru sektor transportasi di Indonesia ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baterai untuk mobil listrik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, oleh Presiden Joko Widodo, Rabu (15/9/2021). Direncanakan, mulai 2022, Indonesia sudah bisa memproduksi mobil listrik. Proyek senilai Rp 15,6 triliun ini menggandeng investor Korea Selatan, yakni LG Energy Solution dan Hyundai Motor Group.

Apakah proyek mobil listrik kali ini benar- benar akan terwujud dan nyata? Apakah kita akan menyaksikan dalam beberapa tahun mendatang mobil listrik mendominasi jalanan di Indonesia? Apakah tak lama lagi asap buang  lenyap dari jalanan dan langit perkotaan tetap biru cerah kendati kendaraan menyemut akibat macet?

Editor:
Aris Prasetyo
Bagikan