logo Kompas.id
β€Ί
Ekonomiβ€ΊKebijakan Fiskal Progresif
Iklan

Kebijakan Fiskal Progresif

Dengan kemajuan teknologi, negara punya peluang dihadirkan dalam upaya perlindungan sosial secara lebih efektif melalui bantuan teknologi.

Oleh
A Prasetyantoko, Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/HEDEWoZcYqVkyMLpwBMwLgfhEDc=/1024x707/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F20210827-Ilustrasi-Opini-Mendayung-Di-Antara-Kesehatan-Dan-Ekonomi_1630049771.jpg
DIDIE SW

Didie SW

Kebijakan fiskal progresif merupakan antitesis dari kebijakan konservatif. Sejak pandemi Covid-19, kebijakan fiskal di hampir semua negara berubah menjadi progresif. Stimulus fiskal jadi penyangga utama perekonomian, khususnya melalui peningkatan belanja kesehatan dan perlindungan sosial.

McKinsey pada Juni 2020 merilis laporan mengenai respons pemerintah terhadap pandemi Covid-19. Hanya dalam beberapa bulan saja, dana stimulus sudah mencapai 10 triliun dollar Amerika Serikat. Respons ini jauh lebih besar ketimbang krisis finansial 2008-2009.

Editor:
Nur Hidayati
Bagikan