logo Kompas.id
β€Ί
Ekonomiβ€ΊTarget Pengurangan Emisi pada ...
Iklan

Target Pengurangan Emisi pada Pembangkit PLN Kurang Agresif

Indonesia berpotensi masih menggunakan pembangkit listrik berbasis batubara hingga di atas 2060. Emisi gas karbondioksida akibat dari pembangkit-pembangkit itu diperkirakan mencapai 107 juta ton per tahun.

Oleh
M Paschalia Judith J
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/nF5ixwI81rnh3BC_8g3gZJMv9yY=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F01%2FWhatsApp-Image-2020-12-30-at-15.51.04_1609486465.jpeg
HUMAS PLN

Ilutrasi pembangkit listrik yang dioperasikan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). PLN berencana menghentikan operasional sejumlah PLTU tua dan digantikan dengan pembangkit berbahan bakar bersih dan terbarukan.

JAKARTA, KOMPAS β€” Rencana PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengurangi emisi karbon pada jenis pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU dinilai kurang agresif. Pasalnya, sasaran penghentian operasi PLTU hanya ditujukan pada PLTU yang sudah lama beroperasi. Pemanfaatan biomassa turut menjadi opsi bagi PLN untuk mengurangi emisi.

Sebelumnya, dalam rapat di Komisi VII DPR, PLN menunjukkan rencana penghentian operasional PLTU sepanjang 2021-2060. Pada 2025 atau tahap pertama, PLTU dan pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) akan diganti dengan dengan pembangkit dari energi terbarukan yang total kapasitasnya 1.100 megawatt (MW). Tahap selanjutnya, pada 2030 PLN akan menghentikan lagi operasional PLTU dengan kapasitas 1.000 MW.

Editor:
Aris Prasetyo
Bagikan