logo Kompas.id
EkonomiPetani, Horeka, dan Rumah Tangga Jadi Ujung Tombak

Petani, Horeka, dan Rumah Tangga Jadi Ujung Tombak

Indonesia ingin menekan timbulan ceceran dan sampah pangan pada setiap mata rantai pasok. Upaya tersebut mengandalkan petani, pebisnis horeka, dan rumah tangga konsumen

Oleh M Paschalia Judith J
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Pekerja memilah sampah yang didapatkan dari hotel dan restoran berupa potongan sayur dan buah untuk sumber makanan bagi larva dari lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) di TPA Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (25/3/2021). Mereka membudidayakan maggot ini untuk proyek percontohan pengelolaan sampah organik yang menghasilkan nilai ekonomi.

JAKARTA, KOMPAS — Penekanan jumlah ceceran dan sampah pangan Indonesia dalam rantai pasok dari hulu ke hilir bertumpu pada petani, rumah tangga konsumen, serta pebisnis hotel, restoran, dan katering atau horeka. Ketiga aktor ekonomi tersebut mesti mengurangi dan mengelola jumlah timbulan ceceran dan sampah pangan dari aktivitas produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Arifin Rudiyanto memaparkan, timbulan ceceran dan sampah pangan (food loss and waste) pada 2045 dapat ditahan di posisi 49 juta ton per tahun atau 166 kilogram per kapita per tahun dengan sejumlah strategi pengelolaan.

Editor: Aris Prasetyo
Bagikan
Memuat data..