logo Kompas.id
EkonomiAda “Lagom” di Balik Stimulus
Iklan

Ada “Lagom” di Balik Stimulus

Masyarakat di kala pandemi Covid-19 ini menerapkan prinsip hidup ”lagom”. Hidup sederhana, seimbang, tidak kurang atau berlebih, secukupnya, dan pas. Atau dari kacamata orang Jawa, artinya adalah ”sak madya”.

Oleh
hendriyo widi
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/xHQajTgDTG0lq5d0-V0jAwXZnsQ=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F02%2F1d9c8870-e133-40af-8f65-2b17ae95bd73_jpg.jpg
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Pekerja UKM pembuatan maket ”Joglo Maket Jakarta”, menyelesaikan pesanan maket kawasan perkotaan pesanan sebuah studio film di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, Kamis (11/2/2021). Pandemi Covid-19 telah menyebabkan usaha milik Musano tersebut terpuruk. Perusahaan properti yang biasanya menjadi pelanggan tetap, saat pandemi ini berhenti memesan maket karena tidak bisa menggelar pameran secara langsung. Omzet Musano turun sekitar 80 persen. Saat ini pekerjanya tinggal satu orang dari semula delapan orang.

Gelontoran stimulus untuk menggerakkan konsumsi rumah tangga ibarat memancing ikan. Pemerintah berusaha ”memancing” dengan ”umpan” yang menggiurkan untuk mendapatkan ”ikan”. ”Ikan” tersebut ada yang merespons dan ada yang tidak. Di balik itu, ada falsafah lagom yang dipegang erat masyarakat di tengah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

Tahun ini, pemerintah ingin menggeliatkan ekonomi di sektor properti, otomotif, dan perbankan dengan memancing konsumsi kelas menengah atas. Kelas menengah atas disasar karena berpenghasilan rata-rata 10-50 dollar AS (sekitar Rp 140.000-Rp 700.000) per orang per hari versi Bank Dunia.

Editor:
dewiindriastuti
Bagikan