logo Kompas.id
EkonomiMengembalikan Masa Keemasan...
Iklan

Mengembalikan Masa Keemasan Anggur Bali

Anggur hasil budidaya petani di Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki rasa manis dan warna lebih gelap dari tanaman serupa di tempat asalnya. Masyarakat Buleleng menanamnya sejak 1930-an saat penjajahan Belanda.

Oleh
COKORDA YUDISTIRA/AMBROSIUS HARTO
· 10 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/14Opqj6B4_xSQuETCnRdU-AO-d0=/1024x567/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F03%2F20210312coki-kebun-anggur-di-buleleng_1615539377.jpg
KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Kebun pembibitan dan pengembangan anggur yang dikelola Asteroid Vineyard di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, seperti difoto pada Kamis (11/3/2021). Anggur Bali yang dibudidayakan petani anggur di Buleleng pernah menjadi buah primadona dari Bali.

Meskipun bukan tanaman asli dari Pulau Dewata, anggur hitam menjadi identik dengan Bali. Anggur yang dihasilkan dari kebun-kebun petani di Kabupaten Buleleng pernah menjadi buah populer dari Bali.

Anggur diperkirakan mulai ditanam di Bali, terutama di kawasan pesisir di Bali utara, pada tahun 1930-an, ketika masa penjajahan Belanda. Budidaya anggur di Buleleng semakin intensif mulai 1950-an ketika Bali menjadi bagian Provinsi Sunda Kecil.

Editor:
hamzirwan
Bagikan