logo Kompas.id
EkonomiBeradaptasi Menghadapi Resesi

Beradaptasi Menghadapi Resesi

Bukan berdamai, melainkan lebih keras mencegah penularan Covid-19. Bukan berdamai, melainkan bersiap menghadapi resesi ekonomi melalui mitigasi.

Oleh Enny Sri Hartati, Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance
· 2 menit baca

Bertarung melawan pandemi Covid-19 tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan logistik, tetapi juga strategi yang tepat. Hal yang tak kalah penting adalah konsolidasi dan keterpaduan seluruh kekuatan untuk fokus ”Bersama Melawan Korona” dan tidak sekadar menjadi slogan. Bak lari maraton, sumber daya tidak hanya dikerahkan pada awal start, tetapi harus memiliki strategi mengatur napas agar stamina mampu mencapai titik finis. Apalagi jika stamina dan amunisi yang dimiliki serba terbatas, dibutuhkan manajemen dan skala prioritas yang tepat agar mampu bertahan sekaligus menyiapkan langkah pemulihan. Pasalnya, sepanjang antivirus belum ditemukan, Covid-19 tetap menjadi ancaman dan sumber ketidakpastian.

Dampak ekonomi pandemi Covid-19 memang sangat berat dan dalam, melebihi krisis ekonomi 1997/1998. Pandemi menghantam semua sektor sisi produksi sekaligus menghilangkan sumber pendapatan sisi konsumsi. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), rasio okupansi atau tingkat hunian sektor perhotelan anjlok, menjadi tinggal sekitar 10 persen, dan lebih dari 2.000 hotel terpaksa tutup.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat produksi sektor manufaktur turun sekitar 50 persen. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi penjualan mobil anjlok dari 1,1 juta unit pada 2019 menjadi sekitar 400.000 unit pada 2020. Gabungan Industri Elektronika dan Alat-alat Listrik Rumah Tangga (Gabel) melaporkan penurunan produksi 50-60 persen. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memperkirakan penurunan 40-50 persen. Adapun di sektor ritel, Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menyatakan, hanya 50 persen penyewa mal yang bisa buka kembali setelah tutup lebih dari tiga bulan. Padahal, selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB), 96 persen mal tutup. Apalagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor informal yang pada masa krisis ekonomi 1998 menjadi penopang ekonomi justru kini menjadi segmen yang paling berat terkena dampak pandemi.

banner registration
Lanjutkan baca artikel ini dan artikel lainnya dengan daftar akun Kompas.id.
Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Dapatkan akses tanpa batas ke seluruh artikel premium dengan berlangganan Kompas.id.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Editor: dewi indriastuti
Bagikan
Memuat data..