logo Kompas.id
EkonomiTarif Kereta Api Bersubsidi Tidak Naik

Tarif Kereta Api Bersubsidi Tidak Naik

JAKARTA KOMPAS &mdash PT Kereta Api Indonesia Persero memastikan tidak ada kenaikan tarif kereta api ekonomi jarak sedang dan jauh bersubsidi yang dipesan mulai 2 November hingga akhir tahun ini PT KAI akan tetap mengacu pada tarif sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2016 te

· 2 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan tidak ada kenaikan tarif kereta api ekonomi jarak sedang dan jauh bersubsidi yang dipesan mulai 2 November hingga akhir tahun ini. PT KAI akan tetap mengacu pada tarif sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2016 tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Api Pelayanan Kelas Ekonomi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik. "Sesuai arahan Pak Menteri (Perhubungan) dan Bu Menteri (BUMN), tarif akan kembali mengacu ke Permenhub No 35/2016 sehingga tarif kereta api tidak ada perubahan," kata Direktur Utama PT KAI (Persero) Edi Sukmoro dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (4/10).Mulai keberangkatan 1 Januari 2018, terdapat 20 rute KA jarak sedang dan jauh bersubsidi direncanakan mengalami penyesuaian tarif sesuai Permenhub No 42/2017. Namun, PT KAI kembali mengacu Permenhub No 35/2016, tarif tak jadi naik. Subsidi untuk kereta api tahun 2017 mencapai Rp 2,1 triliun, naik dari tahun 2016 sebesar Rp 1,827 triliun. Alokasi subsidi itu adalah 65 persen untuk kereta perkotaan, sementara sisanya dialokasikan untuk kereta ekonomi antarkota. Direktur Infrastruktur/Prasarana sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Komersial PT KAI (Persero) Bambang Eko Martono mengatakan, dengan tetap mengacu pada Permenhub No 35/2016, selisih tarif yang ditanggung PT KAI tersebut bisa dianggap sebagai diskon bagi masyarakat pengguna KA ekonomi jarak sedang dan jauh bersubsidi. Jumlah penumpang KA yang disubsidi pada semester I-2016 sebanyak 33,3 juta. Pada semester I-2017, jumlah penumpang KA yang disubsidi sebanyak 37,5 juta.Sementara itu, Kementerian Perhubungan berkoordinasi dengan Indonesian National Shipowners' Association (INSA) terkait kenaikan tarif jasa angkut peti kemas dari Surabaya ke Ambon. "Kami hanya akan menanyakan, alasan naik kenapa. Kalau terkait biaya produksi, ya, tidak masalah," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Laut Bay M Hasani di Jakarta, Rabu.Ketua DPP INSA Carmelita Hartoto mengatakan, kenaikan tarif angkut itu terpaksa dilakukan karena harga bahan bakar minyak, yakni Marine Fuel Oil, mengalami kenaikan 47 persen, dari Rp 3.800 menjadi Rp 5.600 per liter. "Konsumsi bahan bakar mencapai 30 persen dari biaya produksi," kata Carmelita. (NAD/ARN)

Editor:
Bagikan
Memuat data..