logo Kompas.id
EkonomiInklusi Dorong Pertumbuhan

Inklusi Dorong Pertumbuhan

YOGYAKARTA KOMPAS &mdash Inklusi keuangan berkontribusi sekitar 055 persen terhadap produk domestik bruto Hal ini terjadi karena inklusi keuangan tak sekadar meningkatkan akses dan layanan keuangan Namun inklusi juga dapat mendorong pertumbuhan usaha baru dan penyerapan tenaga kerjaStrategi

· 3 menit baca

YOGYAKARTA, KOMPAS — Inklusi keuangan berkontribusi sekitar 0,55 persen terhadap produk domestik bruto. Hal ini terjadi karena inklusi keuangan tak sekadar meningkatkan akses dan layanan keuangan. Namun, inklusi juga dapat mendorong pertumbuhan usaha baru dan penyerapan tenaga kerja.Strategi inklusi keuangan atau akses keuangan untuk semua masyarakat harus terus dikembangkan karena juga berkontribusi dalam mengatasi persoalan kemiskinan. Hal itu mengemuka dalam seminar Konferensi Akuntansi Internasional Ke-6 yang digelar Bank Indonesia serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, di Yogyakarta, Senin (28/8).Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjadi pembicara kunci dalam seminar bertema "Perubahan Arah Pertumbuhan: Ekonomi Digital, Inklusi Keuangan, dan Peran Akuntansi" tersebut.Pembicara dalam seminar itu adalah Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Eni V Panggabean, Direktur Perpajakan Internasional Direktorat Jenderal Pajak John Hutagaol, dan Konsultan Microsave Indonesia Grace Retnowati.Grace Retnowati mengatakan, di sejumlah negara berkembang, inklusi keuangan fokus pada investasi aset dan produktivitas rumah tangga. Di Malawi, para petani yang mengikuti program inklusi keuangan dapat merencanakan keuangan untuk modal tanam dan panen."Mereka juga mampu meningkatkan output pertanian sebesar 15,4 persen. Hal itu mendorong peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar 10,8 persen," kata Grace.Grace menambahkan, di Meksiko, inklusi keuangan tumbuh sebesar 10 persen. Pertumbuhan inklusi keuangan tersebut mampu mendorong pertumbuhan tenaga kerja sebesar 7 persen, usaha baru 5 persen, dan PDB sebesar 3 persen."Peluang Indonesia menumbuhkan inklusi keuangan cukup besar. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital. Pemerintah sudah memulainya dengan penyaluran bantuan sosial secara nontunai. Beberapa pelaku teknologi finansial dan e-dagang juga sudah memberikan akses keuangan dan pemasaran produk terhadap usaha kecil menengah," katanya.Kendati begitu, lanjut Grace, masih perlu ada pengembangan produk layanan keuangan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat yang belum terjangkau perbankan.Mirza Adityaswara mengatakan, Bank Indonesia berupaya terus menumbuhkan inklusi keuangan dari 36 persen menjadi 75 persen pada 2019, salah satunya melalui teknologi digital. Teknologi digital dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia yang merupakan negara kepulauan.Bantuan sosialBank Indonesia juga telah memprakarsai penyaluran bantuan sosial dari pemerintah ke keluarga penerima bantuan sosial secara elektronik. Pada tahun lalu, bantuan sosial nontunai diberikan kepada 1,2 juta keluarga dan pada tahun ini akan ditingkatkan menjadi 6 juta keluarga."BI juga menginisiasi penyaluran bantuan pangan nontunai yang pada tahun ini diberikan kepada 1 juta keluarga. Ke depan, kami akan mendorong model penyaluran bantuan sosial dari pemerintah ke keluarga penerima bantuan sosial secara elektronik itu tidak hanya melalui kartu, tetapi juga ponsel," ujarnya.Untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital, Bank Indonesia akan mengeluarkan aturan soal teknologi finansial (tekfin) yang saat ini sedang berkembang di Indonesia. Tekfin juga tengah didorong untuk meningkatkan pertumbuhan inklusi keuangan.Mirza Adityaswara mengemukakan, Bank Indonesia akan mengeluarkan aturan yang salah satunya mengenai sistem pembayaran tekfin itu pada triwulan IV-2017 bersamaan dengan regulatory sandbox. "Regulasi sandbox diberlakukan agar pelaku tekfin yang kebanyakan usaha rintisan dengan skala kecil mendapat kesempatan mematangkan konsep dan berkembang dengan sehat serta pada waktunya mampu menyediakan layanan finansial yang aman kepada masyarakat," ujarnya. (HEN)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..