logo Kompas.id
EkonomiHarga Pangan Dipantau

Harga Pangan Dipantau

JAKARTA KOMPAS &mdash Presiden Joko Widodo berharap agar Perum Bulog berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk memantau harga 11 komoditas pangan pokok Perum Bulog juga terus menyerap beras dari petani kendati harga saat ini lebih tinggi dari harga yang ditetapkan pemerintahDemikian diung

· 4 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo berharap agar Perum Bulog berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk memantau harga 11 komoditas pangan pokok. Perum Bulog juga terus menyerap beras dari petani kendati harga saat ini lebih tinggi dari harga yang ditetapkan pemerintah.Demikian diungkapkan Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti seusai menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Selasa (22/8) pagi. "Agar jangan sampai ada yang main-main. Kalau ada hal yang khusus, segera ambil tindakan," kata Djarot menirukan arahan Presiden saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Sejauh ini, Bulog masih berupaya menyerap beras dari petani. Sampai akhir tahun, Bulog ditargetkan tetap memiliki cadangan beras sekitar 1 juta ton. Kini, Bulog memiliki 1,7 juta ton beras, tetapi cadangan ini akan digunakan untuk penyaluran beras sejahtera (rastra), tanggap darurat bencana, dan lainnya. Karena saat ini harga gabah kering giling (GKG) tinggi, Bulog masih mencari alokasi anggaran untuk menjalankan tugas tersebut. Menurut Djarot, Bulog sudah mendapatkan fleksibilitas harga. Dengan demikian, Bulog bisa membeli gabah di atas harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan, yakni Rp 3.700 per kilogram GKG. Sementara itu, harga beras kualitas medium di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, naik 3-5 persen tiga pekan terakhir. Kebijakan Bulog menaikkan harga pembelian gabah dan beras sebesar 10 persen dinilai turut memicu kenaikan tersebut. Harga beras jenis IR 64-II, misalnya, naik dari Rp 9.020 per kilogram (kg) pada 1 Agustus menjadi Rp 9.350 per kg. Sementara harga jenis IR-64 III naik dari Rp 8.100 per kg jadi Rp 8.525 per kg dan jenis IR-42 dari Rp 9.700 per kg menjadi Rp 10.100 per kg. Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi, mengatakan, kenaikan harga terutama terjadi pada jenis beras yang mendominasi perdagangan di PIBC, yakni IR-64 dan IR-42 kualitas medium. Kenaikan terjadi sejak Bulog mengumumkan kebijakan menaikkan harga pembelian gabah atau beras sebesar 10 persen. Bulog menempuh fleksibilitas harga pembelian yang dimiliki sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2016 dan diubah dalam Perpres 20/2017 tentang Penugasan kepada Perum Bulog dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional. Harga pembelian dinaikkan 10 persen untuk mengejar harga pasar dan target penyerapan. Akan tetapi, menurut Arief, pasokan beras dari sentra-sentra padi masih relatif normal karena panen masih berlangsung di sejumlah daerah. Pada transaksi Senin, jumlah beras yang masuk ke PIBC mencapai 4.613 ton, sementara yang keluar 3.678 ton dan total stok 45.975 ton.Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan masih menggodok kebijakan tentang harga eceran tertinggi (HET) beras. Sejumlah pelaku perdagangan beras berharap pemerintah cermat memperhitungkan dampak. Penetapan HET di bawah harga pasar diyakini bakal menyulitkan pedagang sekaligus berimbas ke harga gabah di tingkat petani.Menurut Ketua Koperasi Pedagang PIBC Zulkifli Rasyid, penetapan HET di bawah harga pasar akan menekan harga gabah petani. Sebab, struktur biaya pengangkutan, pengolahan, dan penyortiran gabah ke beras sudah terbentuk. "Pedagang terancam tak bisa jualan karena tidak bisa memenuhi HET," ujarnya.Sementara itu, harga komoditas cabai di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, menurun sejak sekitar dua minggu lalu. Penyebabnya, pasokan cabai dari sentra produksi meningkat. Harga cabai turunAshari (29), salah satu pedagang, mengatakan, harga cabai rawit dari Banyuwangi berkisar antara Rp 12.000 dan Rp 13.000 per kg, turun dari Rp 25.000 per kg. Minggu lalu, Ashari menjual cabai Rp 15.000-Rp 17.000 per kg. Sumanto (52), pedagang cabai lain, menjual cabai keriting dari Temanggung Rp 13.000 per kg, turun dari Rp 30.000 per kg. Harga cabai yang turun di Pasar Induk Kramatjati berimbas pada harga di beberapa pasar lain. Toing (53), pedagang di Pasar Cijantung, mengatakan, dirinya membeli cabai rawit merah di Pasar Induk Kramatjati seharga Rp 15.000 per kg minggu lalu. Cabai itu dijual kembali Rp 20.000-Rp 25.000 per kg.Di Pasar Ciracas, Ardiansyah (21) menjual cabai merah keriting dengan harga Rp 28.000 per kg, cabai rawit hijau Rp 28.000 per kg, cabai keriting hijau Rp 28.000 per kg, cabai rawit merah Rp 36.000 per kg, cabai merah besar Rp 36.000 per kg, dan cabai hijau besar Rp 24.000 per kg. Ia mengatakan, harga berbagai jenis cabai saat ini turun berkisar Rp 3.000-Rp 5.000 per kg dibandingkan bulan lalu. (MKN/INA/DD02/DD09)

Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Belum selesai baca berita ini? Selesaikan dengan berlangganan konten digital premium Kompas.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Memuat data..