logo Kompas.id
EkonomiHarga Eceran Tekan Peternak

Harga Eceran Tekan Peternak

JAKARTA KOMPAS &mdash Ketentuan tentang harga eceran tertinggi daging beku di peritel modern dinilai menekan usaha peternak sapi lokal Harga jual sapi dan permintaan cenderung turun Dalam jangka panjang kondisi ini dikhawatirkan kontraproduktif bagi pengembangan sapi lokalAnggota Perhimpunan

· 3 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Ketentuan tentang harga eceran tertinggi daging beku di peritel modern dinilai menekan usaha peternak sapi lokal. Harga jual sapi dan permintaan cenderung turun. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan kontraproduktif bagi pengembangan sapi lokal.Anggota Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia, Rochadi Tawaf, Selasa (25/4), berpendapat, ketentuan tentang harga eceran tertinggi (HET) tepat untuk mengendalikan harga sekaligus melindungi konsumen. Namun, prosesnya justru menekan harga jual sapi lokal karena daging impor merambah pasar tradisional.Harga jual sapi di tingkat peternak turun dari Rp 45.000-47.000 per kilogram (kg) hidup menjadi Rp 44.000-Rp 45.000 per kg. Angka ini semakin mendekati biaya pokok produksi sekitar Rp 42.000 per kg. Menurut Rochadi, peternak di sejumlah daerah, seperti di Jawa Barat dan Yogyakarta, melaporkan kecenderungan berkurangnya permintaan sapi, baik dari pasar maupun rumah pemotongan hewan. "Jika harga jual terus turun, peternak sapi rugi sebab faktor harga berpengaruh sekitar 38 persen terhadap usaha pengembangan ternak. Harga merupakan insentif bagi pengembangan peternakan rakyat," kata Rochadi. Kementerian Perdagangan menjalin kesepakatan dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia tentang HET gula pasir, minyak goreng, dan daging beku demi stabilitas harga terhitung mulai 10 April 2017. HET gula merek apa pun disepakati Rp 12.500 per kg, minyak goreng kemasan Rp 11.000 per liter, dan daging beku Rp 80.000 per kg. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat kunjungan kerja ke Karawang, Jawa Barat, pekan lalu, menyatakan, struktur harga pada ketentuan HET telah mempertimbangkan biaya pokok produksi dan kepentingan petani atau peternak sebagai produsen. Cara ini justru melindungi konsumen karena pembeli bisa mendapatkan harga terbaik. Gejolak harga pun minim.SegmentasiTarget pemerintah menekan harga daging hingga Rp 80.000 per kg telah ditempuh sejak dua tahun lalu. Namun, harga yang terjadi di lapangan tetap tinggi. Daging beku impor yang seharusnya dijual Rp 80.000 per kg, misalnya, dijual dengan harga hingga Rp 100.000 per kg. Menurut Rochadi, tidak sedikit pedagang mengelabui pembeli dengan menyebut daging kerbau sebagai daging sapi, tentu dengan harga lebih mahal. Cara ini merugikan konsumen sekaligus peternak lokal karena permintaan daging sapi lokal berkurang. Segmentasi daging pun kacau.Padahal, jika distribusi berjalan dengan baik dan sesuai target, segmen pasar diyakini bakal terbentuk. "Daging kerbau asal India bisa Rp 80.000 per kg, sapi impor asal Australia Rp 90.000 per kg, dan daging sapi lokal Rp 115.000 per kg. Dengan demikian, konsumen dan produsen terlindungi," ujarnya.Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia Teguh Boediyana menyatakan, peternak lokal tidak berdaya dalam situasi serbuan daging impor. Mereka berharap pemerintah menekan kuota impor sekaligus meningkatkan insentif kepada peternak lokal untuk mengembangkan usaha.Data dari Perum Bulog, sampai 23 Februari 2017, realisasi impor daging mencapai 61.680 ton atau sekitar 73 persen dari total kontrak 83.538 ton. Sebanyak 58.270 ton di antaranya daging kerbau. Dari jumlah itu, realisasi penjualan baru sekitar 19.000 ton sehingga stok di gudang Bulog tersisa sekitar 42.000 ton. Namun, pemerintah mendorong realisasi impor supaya harga tak bergejolak untuk menjelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 2017. Produksi daging sapi berdasarkan analisis tematik Badan Pusat Statistik terus naik sejak 2014, yakni 435.086 ton (2014), 446.181 ton (2015), dan 457.275 ton (2016). Meski demikian, kenaikannya lebih rendah dibandingkan dengan penambahan kebutuhan konsumsi, yakni dari 593.517 ton (2014), 639.858 ton (2015), dan 684.884 ton (2016). Akibatnya, defisit terus bertambah, yakni 158.430 ton pada tahun 2014 menjadi 227.609 ton tahun 2016.Tahun ini, defisit diperkirakan mencapai 261.542 ton karena produksi dalam negeri hanya 468.369 ton atau sekitar 64 persen dari kebutuhan konsumsi sebesar 729.911 ton. Kementerian Pertanian menggenjot populasi sapi, antara lain melalui program sapi indukan wajib bunting yang ditargetkan menambah 2,4 juta sapi. (MKN)

banner registration
Lanjutkan baca artikel ini dan artikel lainnya dengan daftar akun Kompas.id.
Jadilah Bagian dari Jurnalisme Berkualitas Dapatkan akses tanpa batas ke seluruh artikel premium dengan berlangganan Kompas.id.
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Kompas Digital Premium 12 Bulan (Hemat 40%)
Rp 360.000 /Tahun
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Hemat 40%
POPULER
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Kompas Digital Premium 1 Bulan
Rp 50.000 /Bulan
BERLANGGANAN
atau biarkan Google mengelola langganan Anda untuk paket ini:
Akses tak terbatas Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Kompas Digital Premium & Koran
Kompas Digital Premium & Koran
Rp 108.000 /Bulan
BERLANGGANAN
Akses tak terbatas di Kompas.id (web & app)
Berita digital tanpa iklan pop-up
30 arsip terbaru ePaper Kompas
Artikel Opini eksklusif
Multiplatform, akses Kompas.id melalui laptop, ponsel, ataupun tablet
Pengiriman koran Kompas edisi cetak ke rumah Anda
Editor:
Bagikan
Memuat data..