logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanPerdagangan Rempah Dorong...

Perdagangan Rempah Dorong Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Perdagangan rempah di masa lalu tidak hanya bukti kekayaan sumber daya alam Nusantara, tetapi juga berperan untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 3 menit baca
Pekerja memilah fuli di tempat pengepul pala di Kecamatan Fakfak, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Senin (21/6/2021).
KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Pekerja memilah fuli di tempat pengepul pala di Kecamatan Fakfak, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Senin (21/6/2021).

JAKARTA, KOMPAS — Perdagangan rempah di Nusantara pada masa lalu mendorong perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun itu dapat menjadi referensi untuk melakukan pembangunan berkelanjutan.

Hal ini mengemuka pada diskusi daring bertajuk Jejak Rempah Nusantara, Kamis (21/4/2022). Kegiatan tersebut digelar oleh Pusat Kajian Peradaban Majapahit Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Ketua Dewan Pakar Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Tukul Rameyo Adi mengatakan, sedikitnya ada tiga bidang ilmu yang berkembang di masa perdagangan rempah beberapa abad lalu. Ketiganya adalah kartografi, astronomi, dan teknologi perkapalan.

”Teknologi perkapalan bisa dilihat dari perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut jung. Berdasarkan catatan sejarah dari abad ke-16, perahu itu dibuat tanpa mesin, tetapi bisa menampung muatan sebesar 500 ton,” kata Rameyo.

Miniatur kapal dipamerkan di Museum Kebaharian Jakarta, Rabu (17/11/2021). Budaya bahari di Indonesia berkembang sejak dulu, bahkan sejak zaman prasejarah. masa Hindu-Buddha, hingga masa kerajaan. Namun, budaya bahari Indonesia kini tidak sekuat dulu.
KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Miniatur kapal dipamerkan di Museum Kebaharian Jakarta, Rabu (17/11/2021). Budaya bahari di Indonesia berkembang sejak dulu, bahkan sejak zaman prasejarah. masa Hindu-Buddha, hingga masa kerajaan. Namun, budaya bahari Indonesia kini tidak sekuat dulu.

Mantan Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu menambahkan, pembuatan kapal masa kini masih ada yang mengacu ke prinsip pembuatan kapal di masa lampau. Hal ini wajar mengingat kuatnya budaya maritim dulu. Namun, pengetahuan dan kedekatan masyarakat terhadap laut ia nilai pudar.

Baca juga: Nenek Moyangku Seorang Pelaut (Terlupakan)

Edukator Museum Kebaharian Jakarta, Firman Faturohman, menjelaskan, pudarnya budaya bahari di Nusantara bisa ditarik dari masa penjajahan Belanda. Akses masyarakat lokal ke laut diputus, kemudian masyarakat digeser ke daratan.

”Menurut saya, kita mengalami amnesia kolektif soal kedekatan kita dengan laut,” katanya saat diwawancarai, November 2021. ”Folklor bisa menjadi pengingat putusnya hubungan kita dengan laut. Walau dianggap tidak ilmiah, folklor bisa jadi bahan diskusi untuk mengenalkan budaya bahari Nusantara, khususnya ke generasi muda,” ucapnya.

Pengetahuan bahari itu penting mengingat Indonesia memiliki visi menjadi poros maritim dunia. Artinya, sebagai negara maritim, Indonesia tidak hanya menjaga keamanan maritim, tapi juga mampu memberdayakan potensi maritim. Ini untuk pemerataan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan Indonesia.

Buruh menyiapkan karung berisi pala untuk diangkut kapal Pelni Nggapulu yang berlabuh di Pelabuhan Banda Naira, Maluku, Jumat (28/4/2017).
KOMPAS/ TOTOK WIJAYANTO

Buruh menyiapkan karung berisi pala untuk diangkut kapal Pelni Nggapulu yang berlabuh di Pelabuhan Banda Naira, Maluku, Jumat (28/4/2017).

Baca juga: Perjalanan Jamu Nusantara, Racikan Warisan Leluhur

Pengobatan

Selain itu, perdagangan rempah juga mendorong perkembangan ilmu pengobatan. Sebagai pusat salah satu pusat perniagaan rempah pada abad ke-7 hingga ke-9 Masehi, ramuan tradisional atau jamu sudah dikenal penduduk Nusantara. Hal ini tampak dari relief Karmawibhangga di Candi Borobudur.

Sejarah pemanfaatan rempah untuk pengobatan tradisional juga tampak, antara lain, di relief Candi Prambanan dan Penataran. Ramuan tradisional juga tercatat di sejumlah naskah kuno, seperti Serat Centhini.

”Keraton Sumenep masih menyimpan manuskrip yang berkaitan dengan rempah, misalnya Kitab Serat Puspa dan Kitab Tauhid. Selain pengobatan rempah dengan jamu atau ramuan, pengobatan juga termasuk terapi dan doa,” kata Rameyo.

Grand finalis Pemilihan Jamu Gendong Teladan menumbuk bahan baku jamu di Taman Indonesia Kaya, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (22/12/2018). Pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan digelar Jamu Jago sebagai penghargaan bagi para perempuan penjual jamu serta dalam rangka memperingati Hari Ibu.
KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA

Grand finalis Pemilihan Jamu Gendong Teladan menumbuk bahan baku jamu di Taman Indonesia Kaya, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (22/12/2018). Pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan digelar Jamu Jago sebagai penghargaan bagi para perempuan penjual jamu serta dalam rangka memperingati Hari Ibu.

Ramuan tradisional pun masih dikonsumsi hingga sekarang. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, sebanyak 48 persen penduduk mengonsumsi ramuan jadi dan 31,8 persen penduduk memanfaatkan ramuan buatan sendiri.

Baca juga: Kearifan Masa Lalu, Modal Hadapi Tantangan Masa Depan

Pemerintah pun mendorong agar kearifan masa lalu digali kembali, baik yang diwariskan dalam bentuk narasi lisan maupun kebiasaan hidup. Kearifan itu juga didorong agar diteliti secara ilmiah. Ilmu pengetahuan berbasis budaya diyakini dapat tumbuh.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menyatakan, pengetahuan dan kearifan masa lalu dapat menjadi rujukan untuk mencari solusi masalah zaman sekarang. Ini karena nenek moyang telah lebih dulu menghadapi berbagai tantangan yang kini dialami juga oleh masyarakat modern, misalnya wabah penyakit dan bencana.

Editor:
ICHWAN SUSANTO
Bagikan