logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanIndonesia Ajukan Empat Warisan...
Iklan

Indonesia Ajukan Empat Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO

Reog, tempe, jamu, dan tenun Nusantara diajukan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) ke UNESCO. Sebelumnya, Indonesia memiliki 12 WBTB yang diakui UNESCO, seperti batik, noken, dan pantun.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 3 menit baca
Ratusan seniman reog Ponorogo memprotes rencana Malaysia yang akan mendaftarkan reog dengan nama barongan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asal Malaysia.
KOMPAS

Ratusan seniman reog Ponorogo memprotes rencana Malaysia yang akan mendaftarkan reog dengan nama barongan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asal Malaysia.

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia mengajukan kesenian reog, jamu, tempe, dan tenun Nusantara sebagai warisan budaya tak benda ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO. Keempatnya diupayakan agar diakui di tingkat internasional.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Hilmar Farid mengatakan, keempat elemen budaya ini telah dikaji melalui tahap yang panjang. Keempatnya resmi diajukan sebagai nominasi warisan budaya tak benda pada 25 Maret 2022.

”Yang terpenting adalah masyarakat Indonesia turut memberi perhatian dan ikut melestarikan (warisan budaya),” kata Hilmar melalui keterangan tertulis, Senin (11/4/2022).

Hilmar Farid
KOMPAS/DEONISIA ARLINTA

Hilmar Farid

Langkah Indonesia ini diapresiasi sejumlah pihak, termasuk pegiat kesenian reog. Sebelumnya, Malaysia berencana mendaftarkan reog sebagai warisan budaya tak benda asal Malaysia ke UNESCO. Reog menurut rencana didaftarkan dengan nama barongan.

Hal itu memicu protes dari ratusan seniman di Ponorogo pada awal April 2022. Gubernur Jawa Timur pun meminta Bupati Ponorogo untuk segera mengumpulkan dokumen sejarah kesenian reog. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Ponorogo mengusulkan reog Ponorogo ke daftar warisan budaya tak benda UNESCO pada 2018, tetapi tidak lolos.

Baca juga : UNESCO Tetapkan Gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Merespons rencana Malaysia, Hilmar mengatakan, pihaknya belum menerima informasi resmi bahwa ada negara lain yang juga mengajukan reog ke UNESCO. Namun, ia mendorong agar publik berpartisipasi aktif melestarikan budaya.

”Publik perlu memahami bahwa Konvensi WBTB (warisan budaya tak benda) UNESCO bertujuan untuk melestarikan WBTB sesuai kesepakatan internasional, bukan untuk klaim kepemilikan budaya oleh negara yang mengajukan,” ucap Hilmar.

Publik perlu memahami bahwa Konvensi WBTB (warisan budaya tak benda) UNESCO bertujuan untuk melestarikan WBTB sesuai kesepakatan internasional, bukan untuk klaim kepemilikan budaya oleh negara yang mengajukan.

Iklan

Sebelumnya, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Abetnego Tarigan mengatakan, Kantor Staf Presiden (KSP) akan memastikan pengajuan reog Ponorogo sebagai warisan budaya tak benda menjadi prioritas pemerintah. KSP juga akan berkomunikasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk memastikan syarat administrasi terpenuhi.

Kelompok Reog Niken Gandhini dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo menampilkan seni reog Ponorogo dalam Festival Nasional Reog Ponorogo XXVI, Senin (26/8/2019), di Ponorogo. Acara ini merupakan kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Platform Kompasiana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
RUNIK SRI ASTUTI

Kelompok Reog Niken Gandhini dari SMK Negeri I Jenangan Ponorogo menampilkan seni reog Ponorogo dalam Festival Nasional Reog Ponorogo XXVI, Senin (26/8/2019), di Ponorogo. Acara ini merupakan kerja sama Pemkab Ponorogo dengan Platform Kompasiana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Respons seniman

Langkah Indonesia untuk mendaftarkan budayanya ke UNESCO didukung para seniman. Menurut Ketua Kelompok Seni Jaranan Reog Subur Budoyo, Marjadi, reog merupakan warisan budaya leluhur yang mesti dijaga. ”Jangan sampai dirampas pihak lain,” katanya.

Kelompok seni yang berbasis di Sawahlunto, Sumatera Barat, ini juga berharap agar kesenian reog diperhatikan pemerintah dan masyarakat. Dukungan tersebut mendorong keberlanjutan seni. Menurut Marjadi, menghidupkan kesenian reog kerap terkendala dana.

”Kadang kami memakai gaji pribadi dan iuran anggota untuk dana operasional. Kami juga tidak ada pelatih. Kami belajar dari internet dan teman-teman di Payakumbuh yang juga berkesenian reog Ponorogo. Sebelumnya saya pernah belajar (reog) saat pindah ke Tanjung Enim,” kata generasi ketiga keturunan Jawa ini.

Kesenian Reog Kebonagung Sekar Putih ikut serta dalam Upacara Kebo Ketan.
KOMPAS/ALOYSIUS B KURNIAWAN

Kesenian Reog Kebonagung Sekar Putih ikut serta dalam Upacara Kebo Ketan.

Baca juga : Kain Tenun Nusantara Layak Diakui Dunia

Seniman reog di Desa Plunturan, Jawa Timur, Dwi Bintoro, turut mendukung pengajuan reog sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. Menurut dia, itu menjadi kebanggaan sebagai warga Ponorogo.

”Reog merupakan tradisi kebudayaan warga sehingga semua mempelajarinya. Reog Plunturan yang disebut reog ki onggopati ini diajarkan ke warga sejak PAUD (pendidikan anak usia dini),” kata Dwi yang juga Kepala Desa Plunturan.

Kesenian reog disajikan menjelang start di Kota Madiun, Jawa Timur, dalam etape II Tour de Indonesia 2019, Selasa (20/8/2019).
RONY ARIYANTO NUGROHO

Kesenian reog disajikan menjelang start di Kota Madiun, Jawa Timur, dalam etape II Tour de Indonesia 2019, Selasa (20/8/2019).

Reog ki onggopati juga disebut reog kuno. Reog ini pada umumnya sama dengan reog Ponorogo. Namun, reog ki onggopati masih memegang teguh tradisi leluhur dari segi tata busana, tata irama, dan tata rasa. Dwi mengatakan, seniman reog ki onggopati berusaha mempertahankan jati diri dan ciri khas reog.

Ia menambahkan, mereka kini berupaya mendokumentasikan reog. Pengetahuan soal reog diharapkan bisa diteruskan ke generasi muda. Mereka juga berencana mendaftarkan reog ki onggopati sebagai warisan budaya yang diakui Kemendikbudristek.

Baca juga : Seniman Reog Ponorogo Protes Terkait Rencana Malaysia Daftarkan Reog ke UNESCO

Editor:
EVY RACHMAWATI
Bagikan