logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanEgo Manusia di Balik Hobi...

Ego Manusia di Balik Hobi Memelihara Satwa Liar

Di zaman modern dan digital saat ini, manusia semakin bangga menunjukkan aktivitas memelihara satwa liar. Kelestarian satwa liar kian terancam oleh ego manusia yang ada sejak ribuan tahun itu.

Oleh
PRADIPTA PANDU
· 1 menit baca
Harimau sumatera (<i>Panthera tigris sumatrae</i>) jantan bernama Petir berada di kandang tinggal Rescue Centre Sumatran Tiger, Tambling Wildlife Nature Conservation, Bengkunat Blimbing, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Sabtu (30/1/2016). Pusat rehabilitasi harimau sumatera itu telah merehabilitasi 13 harimau, sebanyak lima ekor di antaranya telah dilepasliarkan.
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) jantan bernama Petir berada di kandang tinggal Rescue Centre Sumatran Tiger, Tambling Wildlife Nature Conservation, Bengkunat Blimbing, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Sabtu (30/1/2016). Pusat rehabilitasi harimau sumatera itu telah merehabilitasi 13 harimau, sebanyak lima ekor di antaranya telah dilepasliarkan.

Ego manusia seolah tak ada hentinya. Tak cukup dengan mengeksploitasi alam, manusia juga kerap merenggut kesejahteraan satwa liar. Dengan beragam dalih, manusia mengambil satwa liar dari habitat aslinya untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan dan dijadikan hewan peliharaan.

Hasil studi dan laporan dalam Living Planet Index (Indeks Planet Hidup) yang disusun organisasi konservasi World Wide Fund for Nature (WWF) pada 2020 menyebutkan, sampai saat ini populasi satwa liar di seluruh dunia terus mengalami penurunan tajam. WWF mencatat, sepanjang 1970-2016 atau selama 46 tahun, penurunan populasi satwa liar mencapai 68 persen. Angka penurunan populasi ini didapat setelah WWF melacak lebih dari 4.000 spesies vertebrata.

Editor:
ICHWAN SUSANTO
Bagikan