logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanMantan Rektor IKJ Wagiono...

Mantan Rektor IKJ Wagiono Sunarto Berpulang

Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2009-2013 dan 2013-2016, Wagiono Sunarto, wafat pada Kamis (13/1/2022) malam di Jakarta. Ia merupakan pendidik dan seniman yang responsif terhadap dinamika zaman.

Oleh
Sekar Gandhawangi
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/E6zB1gfRhCrbpETmsKLOcxFhD8s=/1024x663/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2022%2F01%2FWhatsApp-Image-2022-01-14-at-16.57.02_1642166649.jpeg
DOKUMENTASI PRIBADI

Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2009-2013 dan 2013-2016, Wagiono Sunarto, wafat pada Kamis (13/1/2022) malam di Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS – Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2009-2013 dan 2013-2016, Wagiono Sunarto, wafat pada usia 73 tahun karena masalah kesehatan. Ia dikenal sebagai seniman berwawasan luas, responsif terhadap perubahan zaman, dan sebagai pendidik teladan.

Wagiono wafat pada Kamis (13/1/2022) malam di Rumah Sakit Carolus, Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta pada Jumat (14/1) siang. Menurut Iman Anggoro (40), anak kedua almarhum, Wagiono sebelumnya dirawat di rumah sakit selama beberapa hari akibat masalah ginjal.

Sebelum menjabat sebagai rektor, Wagiono merupakan Direktur Pascasarjana IKJ. Bersama Rektor IKJ periode 2004-2008 Sardono W Kusumo, Wagiono membidani lahirnya program pascasarjana pertama di IKJ. Setelah tidak lagi menjadi rektor, ia mengajar desain komunikasi visual di IKJ.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/tA6jmvODkQWXQq_EyZKeJ0dZMy0=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2022%2F01%2FIMG_2024-2_1642166799.jpg
DOKUMENTASI PRIBADI

Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2009-2013 dan 2013-2016, Wagiono Sunarto, wafat pada Kamis (13/1/2022) malam di Jakarta.

Selain akademisi, Wagiono juga seorang pegiat industri kreatif dengan mendirikan perusahaan desain grafis Grapik Grapos Indonesia. Ia juga aktif di sejumlah organisasi seni. Wagiono tercatat menjadi Ketua Ikatan Perancang Grafis Indonesia atau IPGI (kini Asosiasi Desainer Grafis Indonesia/ADGI) pada tahun 1980. Ia kemudian menjadi anggota Dewan Penasehat ADGI.

Lelaki kelahiran Bandung pada 20 Mei 1949 ini juga pernah bertugas sebagai kurator di Galeri Nasional. Di sisi lain, almarhum tercatat sebagai bagian dari Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) pada tahun 1970-an.

Baca juga: Pengembangan Kebudayaan Tidak Sekadar Konservasi

Wawasan luas

Guru Besar IKJ Sardono W Kusumo mengatakan, pengetahuan Wagiono tidak terbatas pada seni. Almarhum dinilai sebagai pribadi yang pintar dan berwawasan luas. Ini berhubungan dengan latar belakang Wagiono yang bukan hanya seniman dan akademisi, namun juga pegiat industri seni yang aktif di sejumlah organisasi.

Menurut Sardono, Wagiono mendorong terbentuknya suasana belajar interdisipliner di IKJ atau kesadaran bahwa satu disiplin seni dapat berinteraksi dengan disiplin seni lain. Wagiono juga dinilai revolusioner karena program pascasarjana IKJ dibuat terbuka untuk semua orang, tidak hanya orang dengan latar belakang pendidikan seni. Ia meyakini bahwa kreativitas milik semua masyarakat urban.

“Ia adalah orang yang kreatif dalam menanggapi dinamika masyarakat. Dia sangat luwes, akomodatif, namun tidak lembek karena punya gagasan yang ia perjuangkan,” ucap Sardono.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/PLnCa_b0GfnzbEoVMGdMDxBDdC4=/1024x1449/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2022%2F01%2FWhatsApp-Image-2022-01-14-at-16.57.30_1642166651.jpeg
DOKUMENTASI PRIBADI

Rektor Institut Kesenian Jakarta periode 2009-2013 dan 2013-2016, Wagiono Sunarto, wafat pada Kamis (13/1/2022) malam di Jakarta.

Saat dihubungi terpisah, Ketua Dewan Kesenian Jakarta Danton Sihombing mengatakan, Wagiono adalah guru berwawasan luas. Cara berpikirnya dinilai unik. Wagiono mampu menawarkan berbagai perspektif terhadap berbagai isu, termasuk seni.

Danton menambahkan, almarhum selalu punya pengetahuan yang mutakhir. Pemikirannya pun kritis. Danton menggambarkan almarhum sebagai orang yang bicara seperlunya, namun apa yang diucapkan berisi.

“Menurut saya, beliau adalah pendidik yang paripurna. Dia (sosok) lengkap sebagai seniman dan pendidik yang berorganisasi, berkarya, dan berbisnis,” ucap Danton yang juga mahasiswa Wagiono saat kuliah desain grafis di IKJ.

Baca juga: Seniman Daerah Masih Membutuhkan Ruang Apresiasi

Kepala Galeri Nasional Pustanto mengatakan, Wagiono merupakan kurator berprestasi di Galeri Nasional. Almarhum selalu memberi ruang bagi anggota-anggotanya untuk menuangkan ide dan berekspresi. “Kami banyak belajar dari beliau dan merasa kehilangan (dengan kepergian almarhum),” tuturnya.

Editor:
Ichwan Susanto, Aloysius Budi Kurniawan
Bagikan