logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanMerawat Ingatan Sejarah Bahari...

Merawat Ingatan Sejarah Bahari dengan ”Folklore”

”Folklore” atau cerita rakyat kerap menyimpan pengetahuan lokal yang diwariskan nenek moyang dari generasi ke generasi. Kisah itu dapat digali kembali untuk kebaikan masa depan.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 4 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/WKhhV9Ywgqcpr3SYfI3bOs7IxUk=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F09%2F07a5dc30-98d7-4178-adc4-8c44a5c65747_jpg.jpg
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Seorang model membawakan kostum karnaval bertajuk ”The Kingdom of Blambangan” dalam Banyuwangi Ethno Carnival di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/7/2019). Banyuwangi Ethno Carnival merupakan gelaran karnaval yang mengangkat cerita-cerita rakyat dan potensi Kabupaten Banyuwangi.

Masyarakat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengenal legenda Putri Mandalika, putri Raja Tunjung Bitu yang cantik paras dan hatinya. Banyak laki-laki, khususnya pangeran kerajaan lain, berlomba mendapatkan hati sang putri. Namun, perang bakal berkecamuk jika ia memilih salah satu dari mereka.

Putri yang gusar lalu bersemedi meminta petunjuk. Selepas bersemedi, dia memanggil semua pangeran yang hendak melamarnya ke pantai sebelum subuh. Para pangeran menyanggupi panggilan sang putri.

Putri Mandalika berkata, dirinya menerima pinangan semua pangeran agar tidak ada perpecahan antarkerajaan. Ia mau agar Lombok tetap damai. Setelah menyampaikan pendapatnya, Putri Mandalika terjun ke laut.

Semua orang langsung turun tangan hendak menyelamatkan sang putri. Tapi, tubuhnya hilang tanpa jejak. Alih-alih tubuh, mereka menemukan makhluk kecil, panjang, warna-warni, dan berjumlah banyak sekali di laut. Cacing atau nyale tersebut diyakini sebagai manifestasi Putri Mandalika.

Folklore merupakan cara kelompok manusia mempersepsikan alam dan lingkungannya. Dalam folklore bahari di Indonesia, laut dipersepsikan sebagai bagian, orientasi, dan sumber penghidupan masyarakat.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/bacMTDdmSyw9f6K58j_rLfczzFU=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F02%2F9cb1a4ed-2fd1-41d9-8d0b-9a38634d9733_jpeg.jpg
KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Nyale (cacing) laut hasil tangkapan masyarakat.

Keyakinan itu kini menjelma menjadi legenda hidup di Lombok dalam bentuk Festival Bau Nyale. Orang-orang dari dalam hingga luar negeri akan berkumpul saat festival, kemudian berbondong-bondong mencari nyale. Sebagian orang meyakini bahwa semakin banyak nyale ditangkap, semakin besar pula keberuntungan yang bakal diperoleh.

Menurut catatan Kompas, 14 Desember 2009, masyarakat Sasak di sepanjang pantai Lombok Tengah hingga selatan meyakini bahwa tradisi ini memiliki tuah yang bisa mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya. Sebaliknya, orang yang meremehkan akan mengundang bahaya.

Baca juga : Berburu ”Nyale” Sekaligus Merayakan Kebersamaan

”Folklore” bahari

Putri Mandalika bukan satu-satunya folklore atau cerita rakyat Indonesia yang berhubungan dengan laut. Ada sederet folklore bahari lain, misalnya kisah Ina Kabuki di Pulau Buru, Maluku. Ada juga kisah Nyi Roro Kidul yang menguasai pantai selatan di Jawa. Beberapa folklore pun menggambarkan laut sebagai ibu pertiwi.

Antropolog Universitas Brawijaya, Nindyo Budi Kumoro, mendefinisikan folklore sebagai ”pengetahuan tidak resmi” tentang dunia, komunitas, budaya, tradisi, hingga kepercayaan masyarakat. Folklore berangkat dari realitas, kemudian dikemas secara artistik, baik dalam bentuk tutur lisan, tarian, musik, bahasa, ritual, tekstil, maupun karya arsitektur.

”Folklore merupakan cara kelompok manusia mempersepsikan alam dan lingkungannya. Dalam folklore bahari di Indonesia, laut dipersepsikan sebagai bagian, orientasi, dan sumber penghidupan masyarakat,” ucap Nindyo dalam diskusi daring ”Menelisik Folklore Kebaharian Indonesia Melalui Ragam Alih Wahana”, Kamis (23/9/2021).

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/RU5lCK5NV1FHYnQAdJll5B9BABQ=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F07%2F63edbaea-d268-4c95-ab49-68ecde21a651_jpg.jpg
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Seorang peserta karnaval menyapa warga yang menyaksikan Banyuwangi Ethno Carnival di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/7/2019). Banyuwangi Ethno Carnival merupakan gelaran karnaval yang mengangkat cerita-cerita rakyat dan potensi Kabupaten Banyuwangi.

Tak jarang folklore bernuansa supranatural. Realitas folklore seperti berbeda dengan realitas di dunia nyata. Namun, kata Nindyo, itu agar folklore bisa mencapai fungsinya secara efektif. Salah satu fungsinya ialah sebagai sarana bertahan hidup dan beradaptasi di lingkungan tertentu.

Baca juga: Mengapa Orang Modern Masih Percaya Mitos?

Kisah tentang Smong di Aceh, misalnya, yang menyelamatkan warga Simeulue dari tsunami pada 2004. Cerita tentang gelombang laut itu telah diceritakan secara turun-temurun.

Walau kaya akan sejarah, folklore bahari pada akhirnya mulai dilupakan, diganti dengan budaya agraris. Hal ini, antara lain, berhubungan dengan tanam paksa oleh Pemerintah Hindia Belanda. Faktor lain adalah berkembangnya budaya agraris pada masa Kerajaan Mataram Islam hingga lunturnya budaya bahari dengan Perjanjian Bongaya pada 1667. Perjanjian itu membatasi aktivitas para pelaut.

Merawat ingatan

Lunturnya budaya bahari membuat generasi masa kini jadi jauh dengan laut. Menurut pendiri Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani, saat riset ke Kecamatan Lasem, Jawa Tengah, anak-anak tidak akrab dengan laut walaupun tinggal tak jauh dari laut.

Upaya merawat ingatan pun dilakukan. Anak-anak dan warga setempat diajak mengikuti lokakarya, kemudian diajak menonton pentas di atas kapal. Para orang dewasa juga diminta bercerita suasana Lasem zaman dulu. Adapun Lasem pada masa lalu merupakan salah satu simpul pelayaran di Nusantara yang memiliki pelabuhan besar.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/k5V8jgRdcUoRHDpZ0K0bevUbAc0=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F09%2F20201010BONEKA04_1602318212_jpg.jpg
ARSIP PESTA BONEKA

Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre Maria Tri Sulistyani saat diskusi buku Women and Puppetry dalam rangkaian Pesta Boneka #7, Rabu (7/10/2020).

Mendekatkan budaya dan folklore bahari juga dilakukan di suatu perkampungan nelayan di Natuna, Kepulauan Riau. Pentas boneka digelar secara mendadak setelah seorang warga berkata, ”Kenapa, sih, seni tidak pernah sampai di tempat kami?”

”Sampai kapan kita mau menyebut diri kita negara maritim jika tidak menyentuh mereka? Mereka perlu diberi kesempatan untuk mengangkat narasi mereka sendiri. Dengan begitu, kita belajar agar menjadi masyarakat yang lebih baik ke depan,” ucap Maria.

Baca juga : ”Munding Dongkol” dan Sikap Abai Hadapi Bencana Alam

Sementara itu, pengajar Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung, Pindi Setiawan, folklore bahari bisa diangkat ke karya masa kini. Cerita-cerita itu dapat ditransformasikan menjadi komik web, animasi dua dan tiga dimensi, hingga gim. ”Ini tergantung dari sehebat apa kita mentransformasikan tradisi menjadi sesuatu yang kreatif,” katanya.

Sementara itu, Nindyo berpendapat agar folklore dikaji dan dikembangkan lagi. Folklore dinilai menjadi salah satu media yang dekat dengan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya maritim.

Editor:
Adhitya Ramadhan
Bagikan