logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanPena Kedalaman Berpikir...

Pena Kedalaman Berpikir Sastrawan Budi Darma

Mendiang sastrawan Budi Darma berprinsip, persiapan sebelum menulis bukan dengan mengumpulkan literatur, melainkan menajamkan pengalaman batin, kepekaan, imajinasi, dan kemampuan berbahasa.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/w8_xUnri7YlqvBnRY38Yb1Xlo8k=/1024x1024/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F09%2FIMG_5823_1629802985_jpg.jpg
KOMPAS/SARIE FEBRIANE

Sebagian buku-buku cetakan lama karya Budi Darma.

Kiprah sastrawan mendiang Budi Darma menarik ditelisik. Pemikiran dan pekerjaan sastranya menjadi input tersendiri bagi pengembangan sastra Indonesia.

Budi Darma merupakan salah satu penulis yang menonjol di Indonesia. Ia menulis lepas di banyak majalah di Indonesia sejak 1969. Karya pertamanya yang populer dan meledak di dunia sastra berupa kumpulan cerpen berjudul Orang-orang Bloomington (1980). Novel berjudul Olenka (1983) juga meledak. Kisah yang ditulis Budi dinilai unik, bahkan aneh (Kompas, 21/8/2021).

Sastrawan Seno Gumira Ajidarma memandang Budi Darma sebagai penulis yang punya banyak kontradiksi. Budi berprinsip bahwa penulis yang sesungguhnya tidak pernah punya persiapan apa-apa. Namun, pada saat yang sama, penulis juga tidak bisa menulis tanpa persiapan.

Penulis yang sesungguhnya tidak pernah punya persiapan apa-apa. Namun, pada saat yang sama, penulis juga tidak bisa menulis tanpa persiapan. (Budi Darma)

”Persiapan yang dimaksud, misalnya, bukan mengumpulkan literatur. Tetapi, ini soal pengalaman batin, kepekaan, imajinasi, dan kemampuan berbahasa,” ucap Seno pada simposium daring ”Menuju Teori Sastra Dunia Jungkir Balik Budi Darma”, Selasa (14/9/2021).

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/z35e8mlL1LWB6baMA_PgbIVNP38=/1024x691/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F20130627rad16_1629778432.jpg
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama menyerahkan penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2013 kepada Budi Darma di Jakarta, Kamis (27/6/2013). Empat tokoh lainnya yang menerima penghargaan serupa adalah Ahmad Syafii Maarif, Benjamin Mangkoedilaga, Salahuddin Wahid, dan Karlina Supelli.

Dalam paparan Seno, Budi berpendapat bahwa penulis tidak perlu membuat konsep tema, alur, hingga penokohan terlebih dahulu. Penulis mesti mengasah kedalaman berpikir sebagai dasar menulis.

Prinsip itu tampak pada proses menulis almarhum. Di beberapa kesempatan Budi menjelaskan bahwa ia kerap menulis secara tiba-tiba. Beberapa cerpen yang selesai dengan ”metode tiba-tiba” itu, antara lain, Laki-laki Tua Tanpa Nama dan Joshua Karabish.

Baca juga : Budi Darma, Penulis Rendah Hati Itu Telah Pergi

Novel Olenka juga lahir secara ”tiba-tiba” setelah Budi melihat seorang perempuan yang menarik perhatiannya di dalam lift. Novel tersebut diselesaikan setelah Budi jarang tidur berhari-hari. Cara menulis yang seakan tiba-tiba ini disebut proses keterbiusan atau ketidaksadaran.

”Sebagai penghayat kehidupan, ia selalu mengamati manusia,” kata Seno.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/9IoEvP-dnHt--e21HjLmS3ftYl0=/1024x613/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F09%2F20150311Bah20_1629780663_jpg.jpg

Penulis M Shoim Anwar menambahkan, tulisan Budi Darma adalah sastra yang dapat dinikmati masyarakat umum. Ini tampak dari alur cerita yang tidak rumit, struktur kalimat yang tidak berbelit-belit dan cenderung kaku, serta tata bahasa yang mengalir lancar. Budi juga beberapa kali menggunakan bahasa daerah dalam tulisannya.

”Yang tampak jungkir balik (dari karya Budi) adalah unsur penokohan, karakter, atau perilaku para tokoh sehingga muncul kesan aneh dan ganjil,” katanya.

Menurut Guru Besar Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Faruk HT, karya sastra Budi merupakan campuran antara tragedi dan komedi. Tokohnya konyol sekaligus ironis.

Intelektualitas

Budi berpendapat bahwa menulis karya sastra berhubungan dengan melatih intelektualitas. Kemampuan intelektual seorang penulis dinilai menjadi salah satu syarat penting untuk menjadi penulis yang baik. Semakin baik kemampuan intelektual penulis, semakin baik pula karya yang akan dihasilkan.

Baca juga : Sosok-sosok Misterius Budi Darma

Di sisi lain, sastrawan Okky Madasari mempersoalkan makna intelektualitas oleh Budi. Menurut dia, Budi cenderung memaknai intelektualitas sebatas kemampuan berpikir. Keterlibatan dengan masyarakat juga tidak dilihat berhubungan dengan intelektualitas. Pemikiran ini muncul setelah Okky membandingkan pemikiran Budi tentang intelektualitas dengan penulis Pramoedya Ananta Toer dan sosiolog Syed Hussein Alatas.

”Sastra sebagai medan intelektualitas malah menempatkan penulis sebagai bagian tidak terpisahkan dari masyarakat. Tidak hanya agar pengarang menghasilkan karya sebagus-bagusnya, tetapi juga perlu memahami dinamika dan persoalan di masyarakat,” ucap Okky.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/Mvyah46-E0RbtvclPoMC4zkJ5Oc=/1024x637/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F09%2FBW-00035105-I-37-GIR027_1629776923_jpg.jpg

Budayawan Eka Budianta berpendapat, tulisan Budi Darma mengajak pembaca berpikir kritis dan kreatif. Selain novel dan cerpen, esai yang ditulis Budi juga memberi perspektif sejarah serta referensi pengetahuan yang luas dan dalam. ”Pembicaraannya fokus, terus terang, dan menghormati pembaca sebagai pribadi yang cerdas,” katanya.

Baca juga : Budi Darma: Yang Belum Ada, Kelak Akan Ada...

Editor:
Aloysius Budi Kurniawan
Bagikan