logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanIntisari, Membaca Pembaca...

Intisari, Membaca Pembaca untuk Melintasi Zaman

Majalah "Intisari" menginjak usia ke-58 tahun. Majalah yang didirikan oleh almarhum Jakob Oetama dan almarhum PK Ojong ini terus beradaptasi dengan tantangan zaman dan disrupsi digital.

Oleh
SEKAR GANDHAWANGI
· 4 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/jEFWfMKqE2R8SdU7iqBwYAqdrsg=/1024x778/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F04%2Fpaket-KompasIntisari.jpg

Tepat pada tanggal 17 Agustus 2021 Intisari berusia 58 tahun. Majalah itu masih bertahan hingga kini dan masuk dalam salah satu jajaran media tertua di Indonesia. Meski sudah tua, Intisari ingin tetap berusaha tampil muda, relevan dengan tuntutan zaman dan pembaca masa kini.

Intisari pertama kali terbit pada 1963. Para pendirinya, almarhum Jakob Oetama dan almarhum Petrus Kanisius Ojong, membuat majalah ini saat peredaran informasi masih terbatas. Keduanya lantas sepakat membuat media yang bertumpu pada human interest alias cerita manusia. Isi majalah antara lain tentang pengetahuan populer dan kaitannya dengan manusia.

Baca juga Seabad PK Ojong (1920-2020), Salah Seorang Pendiri "Kompas"

“Saya pikir ini menjadi spirit di zaman itu. Mereka (Jakob Oetama dan PK Ojong) bisa mendobrak kesulitan akses informasi melalui Intisari,” kata Pemimpin Redaksi Intisari Mahandis Yoanata Thamrin, Selasa (17/8/2021) malam.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/p5I5UCMf49WMM6Ba0OFfduQZhFg=/1024x711/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F07%2FPK-OJONG-05_1595596806.jpg
ARSIP KOMPAS

Pendiri harian Kompas, (dari kiri) Jakob Oetama pendiri, PK Ojong pendiri, serta J Adisubrata, pemimpin redaksi Majalah Intisari, Irawati saat masih di Jalan Pintu Besar Selatan 86-88 Jakarta Kota, sebelum tahun 1969.

Dikutip dari laman Intisari, majalah edisi pertama tebalnya 128 halaman. Ukurannya mungil dan tanpa sampul, namun tidak telanjang. Majalah ini dicetak 1.000 eksemplar dan terjual habis. Harganya Rp 60 untuk Jakarta dan sekitarnya, sementara untuk luar kota harganya Rp 65.

Intisari bisa dikatakan sebagai “kakak kandung” Kompas. PK Ojong dan Jakob Oetama mendirikan Kompas tak lama setelah Intisari terbit. Pada 28 Juni 1965, Kompas edisi pertama diterbitkan. Kompas memburu berita terkini untuk terbit harian, sedangkan Intisari terbit bulanan.

Disrupsi digital

Tantangan setiap zaman pasti berbeda-beda. Kali ini, media menghadapi disrupsi digital. Media cetak yang dulu mendominasi pelan-pelan gugur. Media-media baru berbasis daring tumbuh seperti cendawan di musim hujan.

Jakob Oetama telah memprediksi hal ini lebih dari tiga dekade lalu. Dalam buku Perspektif Pers Indonesia Jakob berkata, “Kata kunci di sini adalah bahwa media cetak bertahan hidup bahkan akan tetap berkembang sekalipun menghadapi saingan media elektronik.”

Respons media yang tanggap perubahan, mampu menyesuaikan dan menguasai perubahan menjadi kunci bertahan. Menurut Mahandis, hal ini bisa dimulai dengan memetakan kelebihan, kekurangan, serta peluang majalah. Ia mengatakan, kedalaman konten mesti diperkuat jika majalah mau bertahan.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/7EoruYd_0UGLNfzTsJCsKX5sqMU=/1024x1517/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F20210817SKA-majalah-intisari-kredit-laman-intisari_1629215771.jpeg
LAMAN INTISARI

Majalah "Intisari" edisi Agustus 2021 berjudul "Cerita di Balik Perang".

Intisari berencana fokus pada satu tema besar di setiap edisi. Isu yang dibahas dalam majalah tidak lagi beragam. Sekitar 80 persen isi artikel akan membahas tema yang sama, dengan sudut pandang beragam. Hal ini mulai diterapkan sejak April 2021. Dengan demikian, Intisari diharapkan menjadi majalah yang layak dikoleksi.

“Ada kecenderungan penjualan buku naik, sementara majalah turun. Saya lihat peluang buku lebih besar dari majalah. Intisari tidak akan menjadi buku, tapi kami melihat bahwa satu buku hanya membahas satu tema. Kami mengambil (kesempatan) itu,” kata Mahandis.

Baca juga Tahun Perubahan Digital yang Menentukan

Ia menambahkan, artikel majalah akan fokus ke tiga tema, yaitu sejarah, biografi, dan kebudayaan. Ketiganya merupakan tema bacaan populer di laman internet Intisari. Adapun sebagian pembacanya merupakan anak muda berusia 18 tahun hingga 30-an tahun. Tema tersebut bakal dikemas secara populer dengan perspektif cerita manusia.

“Kami menukil sisi manusia dari sebuah cerita besar, misalnya tokoh dalam sejarah. Menarik untuk mengulik kesaksian tokoh itu atau keluarga yang selama ini diam. Kami ingin memberi ruang bicara atau voice for the voiceless,” ucap Mahandis.

Interaksi pembaca

Saat dihubungi terpisah, peneliti senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan Ignatius Haryanto mengatakan, pembaca saat ini bukan lagi pihak yang pasif. Pembaca dapat dilibatkan untuk memproduksi karya jurnalistik yang lebih baik dan sesuai kebutuhan pembaca. Untuk ini, interaksi dengan pembaca dibutuhkan.

Kuncinya adalah banyak berdialog dengan pembaca. Media bisa mengidentifikasi para pelanggan setia, kemudian meminta pendapat mereka, baik melalui survei maupun forum diskusi.

“Kuncinya adalah banyak berdialog dengan pembaca. Media bisa mengidentifikasi para pelanggan setia, lalu meminta pendapat mereka, baik melalui survei maupun forum diskusi. Kemauan audiens terhadap media digali. Dengan ini, informasi yang disodorkan (ke publik) bermanfaat,” kata Haryanto.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/wfj8oGBqP4MzCxQpE76KJQQuV8g=/1024x655/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F04%2FIntisari.jpg

Tantangan bagi Intisari, lanjut Haryanto, termasuk mengemas konten yang tetap menarik dibaca dalam jangka waktu panjang. Tantangan lain yakni menyajikan konten mendalam, menarik, dan bermanfaat di era banjir informasi.

“Filosofi media ini adalah memberikan artikel yang menghibur, namun juga informatif dan disampaikan dengan gaya yang santai. Bahwa Intisari bisa bertahan lebih dari 50 tahun merupakan prestasi tersendiri,” ucap Haryanto.

Baca juga Media Arus Utama Lebih Percaya Diri Merambah Digital

Mahandis menambahkan, laman dan akun media sosial Intisari akan mendekat ke komunitas-komunitas sejarah, biografi, dan kebudayaan. Mereka bukan hanya dipandang sebagai pembaca, namun juga akan diberi kesempatan menulis. “Teknologi informasi membuat semuanya cair. Kita seolah tak berjarak dengan pembaca,” ucapnya.

Editor:
evyrachmawati
Bagikan