logo Kompas.ID

Fotografi

FotografiFoto CeritaPetenun Songket Palembang, Menenun Serpihan Hidup kala Pandemi
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
Foto Cerita
Bebas Akses

Petenun Songket Palembang, Menenun Serpihan Hidup kala Pandemi

Oleh ADRIAN FAJRIANSYAH ·

 

Masa pandemi Covid-19 telah memukul segenap sendi kehidupan masyarakat. Tak terkecuali para petenun songket di Palembang, Sumatera Selatan. Walau songket sudah menjadi identitas Palembang dan salah satu cendera mata wajib pelancong selepas berkunjung ke kota berjuluk ”Bumi Sriwijaya” itu, wabah virus korona baru tetap berdampak negatif terhadap geliat dunia songket di sana.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Petenun Songket Palembang, Cek Ery (54), berfoto di depan rumahnya di kawasan Ki Gede Ing Suro, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (13/1/2021).

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Menunjukkan songket hasil karyanya di belakang rumahnya di kawasan Ki Gede Ing Suro, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (13/1/2021).

Pandemi Covid-19 membuat penjualan songket menurun drastis sekitar 50 persen dari biasanya. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, antara lain, turunnya daya beli masyarakat seiring pembatasan perjalanan dan kegiatan efek dari wabah. Biasanya songket menjadi buruan wisatawan dari luar Palembang dan masyarakat yang akan melangsungkan kegiatan adat seperti pernikahan hingga diburu dalam sejumlah kegiatan pameran.

Harga modal pembuatan yang tinggi tidak sebanding dengan keuntungan penjualan. Tak sedikit pula masyarakat yang bergelut di dunia songket merugi, mulai dari perajin rumahan hingga pengusaha butik. Karena kebutuhan sehari-hari, mereka mau tak mau banting harga yang penting songket terjual dan asap dapur bisa kembali mengepul.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Menyelesaikan songket limar pesanan.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Walau pandemi Covid-19 mengimpit, Ery tetap meneruskan keahliannya menenun songket Palembang.

Cek Ery biasanya menyelesaikan songket dalam 1-3 bulan, bergantung pada tingkat kerumitan coraknya. Songket tercepat yang bisa dibuatnya adalah jenis limar selama 1-1,5 bulan, sedangkan yang paling lama adalah jenis limar klasik dan jantung emas sekitar 3 bulan. Ery menjual songket-songketnya dengan harga mulai dari Rp 1 juta-Rp 2 juta per lembar kain atau sesuai nilai bahan baku yang digunakan. Jika sudah masuk butik, songket-songket rumahan itu bisa naik harga hingga dua-tiga kali lipat.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Wisatawan asal Banda Aceh, Tia Rarani (26), mengamati petenun Songket Palembang, Cek Ery (54).

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Bersama suaminya, Ery bisa menyelesaikan selembar songket dalam waktu 1-3 bulan.

Ery sudah menenun tiga puluh tahun terakhir. Keahlian itu didapatnya dari sang ibu yang diwariskan dari neneknya. Menenun merupakan keahlian yang wajib dikuasai oleh perempuan Palembang, terutama menjelang menikah. Keahlian itu menjadi modal berumah tangga. Hasil tenun bisa dipakai sendiri atau dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dewasa ini, laki-laki juga bisa menenun seiring tuntutan zaman. Seperti suami Ery, dirinya bisa menenun untuk membantu Ery menyelesaikan pesanan. Keduanya menjadi pasangan petenun yang masih bertahan di tengah era anak muda yang mulai kehilangan minat belajar kearifan lokal tersebut. ”Saya dan suami bergantian menyelesaikan pesanan yang penjualannya untuk kebutuhan rumah tangga,” terang Ery sambil menggerakkan jari-jemari dan kaki yang cekatan mengolah benang-benang tipis di perangkat alat tenun bukan mesin (ATBM) atau alat tenun tradisionalnya.

Warisan puyang

Menurut sejarah, songket menjadi warisan para puyang atau nenek moyang orang Palembang dan Sumatera Selatan sejak masa Kerajaan Sriwijaya (abad 7-14 masehi). Arkeolog Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Retno Purwanti dan Sondang Martini Siregar, dalam jurnal Sejarah Songket Berdasarkan Data Arkeologi (2016) menerangkan, jejak songket Palembang pertama ada pada pakaian arca-arca di situs percandian Bumiayu, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Menyelesaikan songket limar pesanan butik dari Jambi di belakang rumahnya.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Songket-songket itu dijual dengan harga Rp 1 juta-Rp 2 juta per lembar.

Kompleks percandian yang berjarak 125 kilometer atau sekitar tiga jam perjalanan darat ke arah barat daya dari Palembang itu merupakan situs peninggalan agama Hindu dari abad ke-9 Masehi. ”Artinya songket kemungkinan besar sudah dikenal oleh masyarakat Sumatera Selatan sejak masa itu atau ketika Sriwijaya masih berkuasa,” kata Retno beberapa waktu lalu yang turut menerangkan bahwa teknologi songket Palembang diduga diserap dari India atau China.

Di Palembang dan di wilayah Sumatera Selatan, songket biasanya dipakai untuk pakaian adat pengantin wanita dan pria. Dalam adat pernikahan di Sumatera Selatan, kain yang terbuat dari perpaduan benang sutra dan emas itu menjadi salah satu benda antaran wajib dari keluarga calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita. Songket juga  digunakan sebagai kain untuk menggendong bayi dalam acara akikah.

Kain yang umumnya berukuran 115 x 200 sentimeter itu bisa menjadi tanjak atau penutup kepala khas pria Palembang, selendang untuk wanita, kain pinggang untuk pria, kain panjang untuk wanita, dan baju kurung untuk wanita. Belakangan ada yang menjadikannya jas, baik untuk pria maupun wanita, hingga masker di kala pandemi.

Hingga sekarang, warisan budaya leluhur itu masih terus bertahan. Sejauh ini songket Palembang sedikitnya ada enam jenis utama, yakni lepus, tabur, bungo, limar, tretes, dan rumpak. Jenis-jenis itu ada pula ragam modifikasinya. Karena ragam jenis, kualitas bahan, dan kerapian hasil, songket Palembang menjadi salah satu kain tradisional paling populer di Indonesia dan Asia Tenggara. Di level nasional hingga mancanegara, songket Palembang kualitas tertinggi bisa dihargai puluhan sampai ratusan juta rupiah.

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Berpose di belakang rumahnya.

Bahkan, berkat keistimewaan itu, songket Palembang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2013. ”Di Aceh, songket Palembang sangat terkenal. Ini saja beberapa teman dan keluarga sudah tanya harga karena mau minta titip dibelikan,” ungkap wisatawan asal Banda Aceh, Aceh, Tia Rarani (26).

Pandemi Covid-19 sejatinya bagian dari dinamika naik-turun kehidupan peradaban manusia. Tak heran, walau impitan menerjang dari sana-sini oleh efek pandemi, jari-jemari dan entakan kaki Ery terus melaju membuat corak dari selembar demi selembar songket Palembang. Ketekunan Ery bak sejarah panjang songket yang telah bertahan hingga 12 abad di tengah beragam perubahan zaman. (ADRIAN FAJRIANSYAH)

 

Memuat data...
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Berpose sembari menyelesaikan songket limar pesanan butik dari Jambi di belakang rumahnya di kawasan Ki Gede Ing Suro, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (13/1/2021).

Editor danu kusworo
Memuat data...
Memuat data...