logo Kompas.id
β€Ί
Pendidikan & Kebudayaanβ€ΊCerdas Bernalar, tetapi Tidak ...
Iklan

Cerdas Bernalar, tetapi Tidak Cerdas Berpikir

Pendidikan seharusnya mendorong kemajemukan berpikir. Ini harus didukung sistem pembelajaran yang menghargai kemajemukan agar siswa tidak sekadar cerdas bernalar, tetapi juga cerdas berpikir.

Oleh
Yovita Arika
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/UnClCymHqlkKlLuPki4cs_c0LDk=/1024x596/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F08%2F19b9afc0-e4fc-419c-8198-46cf027a692a_jpg.jpg
Kompas/Bahana Patria Gupta

Sukarelawan membantu pelajar mengakses kanal Youtube saat belajar daring di Bis Online (Bison) milik Universitas Dinamika, Surabaya, di Kantor Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/8/2020). Akses internet memungkinkan siswa memperoleh beragam informasi. Guru perlu membantu siswa memaknai informasi tersebut sehingga menjadi pengetahuan.

Sistem pendidikan di Indonesia dinilai belum mendorong kemajemukan berpikir. Kebijakan-kebijakan pendidikan yang cenderung Jawa-sentris telah menekan kemajemukan. Praktik pembelajaran juga kurang mendorong cara berpikir kritis dan kreatif.

Hasilnya, pendidikan menghasilkan orang pandai, tetapi kurang menghargai keberagaman. Hasil kajian Komisi Nasional dan Hak Asasi Manusia pada 2012-2018, misalnya, menunjukkan kecenderungan sikap intoleransi yang menguat di kalangan anak muda terdidik (Kompas.com, 15/11/2019).

Editor:
Aloysius Budi Kurniawan
Bagikan