logo Kompas.id
β€Ί
Pendidikan & Kebudayaanβ€ΊMenimbang Risiko Paparan...
Iklan

Menimbang Risiko Paparan Covid-19 pada Anak di Sekolah

Kendati risiko penularan Covid-19 terhadap anak rendah, intensitas kontak fisik di sekolah tak dapat dihindari. Kontak fisik adalah sarana penyebaran virus korona baru. Sekolah sebaiknya tidak dibuka terlebih dulu.

Oleh
Sekar Gandhawangi
Β· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/3aGKNzREuCiouvm9t0t-NZtClfI=/1024x695/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F06%2F20859768-6b55-4a0b-b9ce-a383ee01cb78_jpg.jpg
Kompas/Priyombodo

Petugas dari PMI Kota Tangerang menyemprotkan disinfektan di lingkungan SD Negeri 1 Tangerang, Banten, Rabu (3/6/2020). Penyemprotan tersebut sebagai langkah sterilisasi lingkungan sekolah dari Covid-19. Banyak sekolah belum siap membuka kembali kegiatan belajar-mengajar tatap muka secara fisik. Para guru masih kesulitan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sementara itu, banyak orangtua ragu untuk mengizinkan anak-anak mereka kembali bersekolah di tengah pandemi.

JAKARTA, KOMPAS β€” Kendati anak-anak memiliki risiko cukup rendah untuk tertular, sakit, dan meninggal akibat Covid-19, risiko lain tidak bisa diabaikan. Anak riskan menjadi pasien asimtomatik dan menularkan virus ke orang lain. Membuka kembali sekolah dinilai dapat meningkatkan risiko itu.

Ahli epidemiologi Universitas Padjadjaran, Panji Fortuna Hadisoemarto, mengatakan, intensitas kontak fisik di sekolah tidak dapat dihindari. Padahal, kontak fisik dapat menjadi sarana penyebaran virus korona baru. Hal ini merujuk pada penelitian di sebuah sekolah Katolik di Perancis yang memiliki sekitar 25 siswa per kelas. Penelitian menunjukkan bahwa ada ratusan kontak yang terjadi dalam sehari.

Editor:
khaerudin
Bagikan