logo Kompas.id
Pendidikan & KebudayaanBerguru pada Geliat Zaman

Berguru pada Geliat Zaman

Oleh
· 3 menit baca

Perubahan-perubahan besar politik negeri ini tidak hanya menyisakan kekelaman, tetapi juga melahirkan sosok-sosok manusia pembelajar, seperti Noeralamsjah atau lebih akrab dipanggil Nasjah Djamin. Dialah pelukis sekaligus sastrawan legendaris kelahiran Perbaungan, Sumatera Utara, 24 September 1924. Perjalanan hidupnya benar-benar diawali dari bawah, tetapi ia menapakinya dengan penuh kemantapan. Pengalaman hidup Nasjah menjadi kisah yang tak kalah menarik dari karya-karyanya. Di masa penjajahan Jepang, ia mengalami masa-masa berat sebagai penjual telur, buruh bangunan, dan pegawai di Kantor Propaganda Jepang, Bunka Ka Sendenbu. Di Bunka Ka Sendenbu, Nasjah bekerja sebagai tukang gambar, pelukis poster, dan pembuat komik (kami-sibai). Talenta gambarnya diakui publik setelah ia memenangi lomba poster yang digelar Pemerintah Jepang. Keinginannya menjadi pelukis semakin membulat. Ia lalu merantau ke Yogyakarta dan bertemu dengan tokoh-tokoh seni rupa serta sastra mulai dari S Sudjojono, Affandi, Soedarso, Hendra Gunawan, Trubus, hingga Chairil Anwar. "Pada era 1950-an, pusat seni kreatif Indonesia ditentukan Yogyakarta," kata sastrawan Yapi Tambayong atau Remy Sylado saat membuka Pameran "Retrospeksi" Nasjah Djamin yang digelar pada 25 Oktober-3 November 2017 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10).Jalan sunyi Kurator pameran ini, Suwarno Wisetrotomo, menyebut langkah Nasjah terjun ke dunia seni rupa sebagai pilihan yang sunyi tetapi heroik sekaligus eksotik. Waktu itu, jalan hidup menjadi seniman tidak lazim karena dianggap tak menjanjikan masa depan yang jelas. Selain melukis, Nasjah juga aktif menulis. "Dia sampai pada tataran menyerahkan diri sepenuhnya sebagai seniman melalui lukisan dan tulisan," ujar Suwarno. Ketika Agresi Militer Belanda II pecah 1948, Nasjah pergi ke Jakarta. Ia kemudian bekerja di Balai Pustaka sebagai ilustrator dan bertemu dengan sastrawan. Di sinilah, Nasjah benar-benar menemukan dunia keduanya, yaitu menulis. Setiap perjumpaan dan pengalaman baru menelurkan karya baru baginya, mulai dari cerita bergambar, naskah drama, hingga sajak puisi. Beberapa karyanya antara lain cerita bergambar Hang Tuah (1951), buku anak- anak Si Pai Bengal (1952), dan biografi Chairil Anwar, Hari-hari Akhir Si Penyair (1982). Di bidang seni rupa, sejumlah penghargaan disematkan kepadanya. Dalam rangka mengenang kiprah besar Nasjah, keluarganya menggelar Pameran "Retrospeksi" Nasjah Djamin. Puluhan lukisan dan buku-buku karyanya ditampilkan lengkap dengan dokumentasi serta catatan tangan asli perupa tersebut. "Bapak sangat setia mendokumentasi karyanya. Semuanya masih tersusun rapi dan terawat sampai sekarang," ujar Umi Nafingah, istri Nasjah. (ABK)

Editor:
Bagikan