logo Kompas.id
Desk OlahragaFatamorgana Lionel Messi
Iklan

Fatamorgana Lionel Messi

Sempat tampil bagus di dua laga sebelumnya, publik PSG menyangka Lionel Messi telah menemukan kembali performa terbaiknya. Namun, nyatanya kegemilangan itu hanya fatamorgana. Messi masih harus terus beradaptasi di PSG.

Oleh
I GUSTI AGUNG BAGUS ANGGA PUTRA
· 5 menit baca
Ekpresi penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi, saat menghadapi Real Madrid pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0, namun Messi tidak menyumbang gol.
AFP/FRANCK FIFE

Ekpresi penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi, saat menghadapi Real Madrid pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0, namun Messi tidak menyumbang gol.

PARIS, RABU – Laga antara Paris Saint-Germain melawan Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions Eropa menyibak teka-teki terkait performa Lionel Messi. Publik sempat mengira ia mulai menemukan bentuk permainan terbaiknya bersama PSG saat menghadapi Lille dan Rennes. Nyatanya, itu semua hanya fatamorgana. Messi tak kunjung mampu mengembalikan ketajamannya seperti dulu.

PSG mampu mengatasi perlawanan Real Madrid dengan skor 1-0 dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. Messi, yang memahami cara membobol gawang musuh bebuyutannya saat masih bermain di Liga Spanyol itu, ternyata tidak berkutik sepanjang laga. Panggung laga itu justru diambil Kylian Mbappe, rekan Messi yang mencetak gol kemenangan PSG.

Sebelum laga, Pelatih PSG Mauricio Pochettino berharap Messi bisa menjadi senjata utama untuk memporak-porandakan pertahanan Real. Realitasnya, pemain berjuluk “Si Kutu” itu minim kontribusi sepanjang laga. Kekosongan Messi itu mampu diisi Mbappe yang tampil lebih agresif dengan banyak melakukan manuver berbahaya di pertahanan Real.

Baca juga : Siksaan Menit Terakhir Kylian Mbappe

Ekspektasi Pochettino terhadap Messi cukup beralasan. Ketika masih menjadi bagian dari Barcelona, Messi adalah pemain yang paling banyak membobol gawang Real di laga el clasico. Dari 45 laga melawan Real di Spanyol, Messi telah mencetak 26 gol. Ia membawa Barca memenangi 19 laga melawan Real, 11 kali imbang, dan 15 kali kalah.

Ekpresi penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi, berduel denga gelandang Real Madrid, Toni Kroos, pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0 pada laga itu.
AFP/FRANCK FIFE

Ekpresi penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi, berduel denga gelandang Real Madrid, Toni Kroos, pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0 pada laga itu.

Tak hanya itu, sebelum menghadapi Real, Messi mulai menemukan kembali bentuk permainan terbaiknya. Setelah sempat redup sejak didatangkan dari Barca di awal musim ini, Messi perlahan menunjukkan ketajamannya saat bersua juara bertahan Liga Perancis, Lille. Di laga tersebut, Messi menyumbang satu gol dan satu asis dalam kemenangan PSG, 5-1, atas Lille.

“Seperti pemain manapun, dia butuh waktu untuk beradaptasi. Dia butuh waktu untuk memulihkan bentuk permainan terbaiknya, setelah sempat lama absen karena cedera dan Covid-19. Penting baginya untuk menunjukkan partisipasi dan komitmen seperti itu,” kata Pochettino.

Usai menghadapi Lille, Messi kembali unjuk gigi di laga melawan Rennes. Hanya saja, kali ini, dia tidak mencetak gol. Messi menyumbang satu asis untuk gol semata wayang Mbappe yang membawa PSG menang 1-0. Sejauh ini, Messi baru menyarangkan dua gol dari 14 penampilan di Liga Perancis. Messi sedikit lebih tajam di Liga Champions Eropa dengan torehan lima gol dari enam laga.

Kegagalan terbanyak

Tanda-tanda kebangkitan Messi di dua laga sebelumnya tidak berlanjut kala PSG meladeni Real. Tampil selama 90 menit, Messi tidak membuat satu gol maupun asis. Ia bahkan gagal mengeksekusi penalti di menit ke-60 setelah sepakannya mampu ditebak kiper Real, Thibaut Courtois.

Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois (kanan), menahan bola tendangan penalti penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi (kiri), pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0 lewat gol Kylian Mbappe.
AFP/FRANCK FIFE

Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois (kanan), menahan bola tendangan penalti penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi (kiri), pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0 lewat gol Kylian Mbappe.

Kegagalan mengeksekusi penalti itu membuat Messi menyamai rekor mantan penyerang Arsenal, Thierry Henry, sebagai pemain dengan jumlah kegagalan penalti terbanyak di Liga Champions. Baik Messi dan Henry sama-sama gagal mengeksekusi lima penalti.

“Saya telah banyak mempelajari penalti Messi. Selain itu (menganalisis tendangan lawan), Anda juga harus memiliki sedikit keberuntungan,” kata Courtois menjawab pertanyaan mengenai keberhasilannya menepis penalti Messi.

Iklan

Tumpulnya performa Messi saat bertemu Real menunjukkan peraih tujuh penghargaan pemain terbaik dunia versi Ballon d’Or tersebut belum benar-benar menemukan bentuk permainan terbaiknya. Dengan begitu, kontribusi Messi di laga melawan Lille dan Rennes tiada ubahnya seperti fatamorgana.

PSG tidak memiliki rencana perekrutan pemain yang jelas. Selama ini, PSG cenderung memboyong bintang-bintang besar tanpa memperhatikan sisi kebutuhan tim.

Banyak pihak telah mencoba mencari tahu mengapa Messi sedemikian tumpul setelah berpindah klub. Pochettino telah memberikan analisisnya. Akan tetapi, cedera dan lama tidak bertanding akibat tertular Covid-19 dinilai tidak sampai akan mempengaruhi penampilan Messi hingga sebesar itu.

Analisis lain menyebutkan, Messi memutuskan pindah ke PSG di waktu yang kurang tepat. Mantan pemain PSG, Thomas Meunier, berpendapat, proyek besar Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi hanya menitikberatkan pada kegemerlapan susunan skuad, namun kurang mempertimbangkan perpaduan dan kebutuhan klub atas pemain.

Reaksi penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi, saat menghadapi Real Madrid pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0, namun Messi tidak menyumbang gol.
AFP/ALAIN JOCARD

Reaksi penyerang Paris Saint-Germain, Lionel Messi, saat menghadapi Real Madrid pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, Rabu (16/2/2022) dini hari WIB. PSG menang 1-0, namun Messi tidak menyumbang gol.

Secara tidak langsung, Meunier hendak mengatakan PSG tidak memiliki rencana perekrutan pemain yang jelas. Selama ini, PSG cenderung memboyong bintang-bintang besar tanpa memperhatikan sisi kebutuhan tim. Itu terlihat ketika mereka merekrut Gianluigi Donnarumma dan Georginio Wijnaldum.

Donnaruma, misalnya, lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan PSG dengan segala potensi dan bakat yang ia miliki. PSG tidak membutuhkan kiper baru karena mereka masih memiliki Keylor Navas yang tampil cukup bagus di bawah mistar.

Baca juga : Kontroversi Ballon dOr Messi

“Di PSG, yang terjadi adalah sekelompok pemain bintang dengan karakter berbeda telah disatukan dengan harapan bahwa keunggulan individu lebih penting daripada kolektivitas tim dan strategi,” ujar Meunier.

Menjual mimpi

Bagi Meunier, terlalu naif jika sebuah klub dengan dana jumbo berpikiran seperti itu. Dengan begitu, ambisi besar PSG untuk menjadi raja Eropa disebutnya tidak lebih dari proyek yang menjual mimpi. Sebab, bagaimanapun dibutuhkan upaya lebih untuk menyatukan ego banyak pemain bintang dalam satu tim.

Pendapat serupa juga pernah ditulis oleh harian Perancis, L’Equipe. Mereka melaporkan, Pochettino terkadang merasa sulit untuk menyesuaikan begitu banyak kekuatan menyerang ke dalam susunan pemain yang sama di Parc des Princes. Namun, belakangan ini, khususnya menjelang akhir musim ini, kesulitan itu perlahan mulai diatasi Pochettino.

Pelatih Paris Saint Germain Mauricio Pochettino.
AFP/FRANCK FIFE

Pelatih Paris Saint Germain Mauricio Pochettino.

Melihat kebuntuan Messi, Pochettino mencoba bereksperimen dengan mengganti posisinya dari penyerang sayap kanan ke penyerang tengah. Penyerang sayap kanan merupakan posisi favorit Messi di Barcelona. Kepiawaiannya menyisir sisi kanan serangan kemudian masuk ke jantung pertahanan lawan dan mencetak gol telah membawanya meraih berbagai kesuksesan.

Hal itu, entah mengapa, tidak berhasil dilakukan Messi di PSG. Oleh sebab itu, di laga melawan Lille dan Rennes, Pochettino menempatkan Messi sebagai penyerang tengah. Langkah itu berhasil seiring satu gol dan dua asis yang ia catatkan dalam dua laga tersebut.

Pochettino melihat, dengan memercayakan pos penyerang tengah, ia bisa lebih mendekatkan Messi kepada Mbappe yang beroperasi di sisi kiri penyerangan. Dengan begitu, akan bisa lebih efektif untuk membangun kerja sama antara kedua pemain itu.

Melawan Real, Pochettino ingin mengulang cara yang sama. Namun, Messi lagi-lagi menjadi tidak mampu mencetak gol maupun asis. Dengan kenyataan itu, Pochettino kembali harus memutar otak untuk membantu Messi menemukan bentuk permainan terbaiknya. (AFP/REUTERS)

Editor:
YULVIANUS HARJONO
Bagikan